Breaking News
Telapak Kaki "Nyembul" Di Atas Makam - Wednesday, 16 May 2018 15:12
Walikota Serahkan Kunci Di Program Bedah Rumah - Saturday, 10 February 2018 07:20
IMB Bagi Masjid Di Kota Kediri - Friday, 09 February 2018 08:01
Transaksi Non Tunai Bagi Guru Madin TPA - Friday, 09 February 2018 08:01
ProDaMas 2018 Mulai Terealisasi - Wednesday, 07 February 2018 11:11
Dua Santri Hanyut Diterjang Air Bah - Tuesday, 06 February 2018 02:06
Polisi Tangkap Pembuang Bayi - Monday, 05 February 2018 11:05
Hari Kanker Sedunia Di CFD Jalan Dhoho - Sunday, 04 February 2018 06:13
Puluhan Warga Terpaksa Menutup Operasional MJB - Saturday, 03 February 2018 10:11
Puluhan Massa "Cari" Kepala Kantor BPMPD - Friday, 02 February 2018 23:45
ProDaMas 2018 Segera Direalisasikan - Friday, 02 February 2018 12:12
Super User

Super User

Sunday, 10 June 2018 02:40

 

Surabaya ( radiomadufm.com ) -----Biasanya jelang Hari Raya ada yg memviralkan menyalahkan ucapan Minal Aidin wal Faizin.

 

*Ini tanggapannya:*

 

Pada hari-hari di penghujung Ramadhan ini, beredar BC bertajuk 'Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah?' Seingat saya, jelang hari raya di tahun-tahun sebelumnya, BC tersebut juga tersebar. 

 

Intinya, tulisan itu 'mempermasalahkan' beberapa hal yang telah menjadi tradisi kebiasaan umat Islam, khususnya di Indonesia.

 

Berikut isi lengkap tulisan by no name yang menyebar via BB, WA, atau media sosial lainnya:

 

"Sehubungan dengan akan datangnya Idul Fitri, sering kita dengar tersebar ucapan: “MOHON MAAF LAHIR&BATHIN”. 

 

Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf.

Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri. 

 

Demikian Rasulullah mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur'an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri.

 

Satu lagi, saat Idul Fithri, yakni mengucapan : "MINAL'AIDIN WAL FAIZIN". Arti dari ucapan tersebut adalah: “Kita kembali&meraih kemenangan.” 

 

KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan? 

 

Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yg ucapkan "Minal‘Aidin wal Faizin” Lantas diikuti dengan kalimat "Mohon Maaf Lahir&Batin ”. 

 

Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa.

 

Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.. PASTI PADA BINGUNG!

 

Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.

 

Ucapan yg lebih baik & dicontohkan langsung oleh para sahabat ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

 

"TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM" (Semoga Allah menerima amalku & amal kalian). Jadi lebih baik, ucapan/SMS/BBM kita: Taqobbalallahu minna wa minkum. (Selesai)

 

TANGGAPAN

Riwayat 'Taqabbalallahu Minna wa Minkum' dan Ihwal Ucapan Selainnya

 

Riwayat yang menjelaskan ucapan 'Taqabbalallahu Minna wa Minkum' dituturkan oleh Muhammad bin Ziyad. Ia menceritakan kejadian kala bersama Abu Umamah al-Bahili dan lainnya dari sahabat Rasulullah SAW. Syahdan, sepulang dari Shalat Id, mereka saling mengatakan, 

 

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ

 

Imam Ahmad menjelaskan, sanad hadits Abu Umamah ini Jayyid. 

 

Ali bin Tsabit berujar, 

 

سألت مالك بن أنس منذ خمس وثلاثين سنة وقال: لم يزل يعرف هذا بالمدينة.

"Aku bertanya pada Malik bin Anas sejak 35 tahun. Dia menjawab, 'Hal (ucapan) ini selalu ditradisikan di Madinah."

 

Dalam Sunan al-Baihaqi disebutkan,

 

عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ قَالَ: لَقِيتُ وَاثِلَةَ بْنَ الأَسْقَعِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، قَالَ وَاثِلَةُ: لَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ.

Diriwayatkan dari Khalid bin Ma'dan, ia berkata, "Aku bertemu Watsilah bin Asqa' pada hari Raya. Aku katakan padanya: Taqabbalallahu minna wa minka. Watsilah menanggapi, 'Aku pernah bertemu Rasulullah SAW pada hari raya, lantas aku katakan 'Taqabbalallahu minna wa minka'. Beliau menjawab, 'Ya, Taqabbalallahu minna wa minka."

 

Kedua riwayat ini memberikan benang merah, ucapan 'Taqabbalallahu minna wa minka' merupakan bacaan yang disyariatkan (masyru') dan hukum mengucapkannya sunnah.

 

Apakah Ucapan Lain Tidak Boleh?

Ucapan selamat atau tahniah atas datangnya momen tertentu bisa saja merupakan tradisi atau adat. Sementara hukum asal suatu adat adalah boleh, selagi tidak ada dalil tertentu yang mengubah dari hukum asli ini. Hal ini juga merupakan madzhab Imam Ahmad. Mayoritas ulama menyatakan, ucapan selamat pada hari raya hukumnya boleh (lihat: al-Adab al-Syar'iyah, jilid 3, hal. 219).

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, ucapan selamat (tahniah) secara umum diperbolehkan, karena adanya nikmat, atau terhindar dari suatu musibah, dianalogikan dengan validitas sujud syukur dan ta'ziyah (lihat al-Mausu'ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, jilid 14, hal 99-100).

 

Berdasarkan keterangan di atas, maka setiap ucapan baik, apalagi merupakan doa, dalam momen nikmat atau bahkan musibah, adalah sesuatu yang boleh, bahkan baik untuk dilakukan. Dengan kalam lain, ucapan di Idul Fitri yang terbaik memang 'taqabbalallahu minna wa minkum'. Namun bukan berarti doa dan ucapan lain yang baik itu tidak diperbolehkan.

 

Meluruskan Makna Minal 'Aidin Wal Faizin

Minal 'Aidin wal Faizin dalam bahasa Indonesia berarti 'Semoga kita termasuk orang yang kembali dan menuai kemenangan'. 

 

Kita yakin, orang yang mengucapkannya tidak akan memaknainya 'kembali pada kemaksiatan pascaramadhan, meraih kemenangan atas bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan'. 

 

Pun, jangan memaknai Minal 'Aidin Wal Faizin' dengan 'Mohon Maaf Lahir Batin', hanya karena biasanya dua kalimat itu beriringan satu sama lain. Itu sama saja dengan 'membahasa-Inggriskan' keset dengan welcome, dengan alasan tulisan itu biasanya ada di keset.

 

Makna popular kalimat tersebut adalah 'Ja'alanallahu wa iyyakum MINAL 'AIDIN ilal fithrah WAL FAIZIN bil jannah' (Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang kembali pada fitrah dan menuai kemenangan dengan meraih surga).

 

Jadi jangan khawatir. Maknanya bukan kembali ke perbuatan maksiat dan menang telah menaklukkan Ramadhan. Tanda orang yang diterima ibadahnya, ia makin meningkatkan ketaatan dan makin meninggalkan kemaksiatan (min 'alamati qabulit-tha'ah fa innah tajurru ila tha'atin ukhra).

 

Apa makna fitrah? Setidaknya ia memiliki dua makna: Islam dan kesucian. 

Makna pertama diisyaratkan oleh hadits (artinya): "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia (sebagai/seperti) Yahudi, Nasrani, atau Majusi." 

 

Sisi pengambilan kesimpulan hukum atau wajh al-istidlal-nya, Nabi telah menyebutkan agama-agama besar kala itu, namun Nabi tidak menyebutkan Islam. Maka fitrah diartikan sebagai Islam. 

 

Dengan ujaran lain, makna kembali ke fitrah adalah kembali ke Islam, kembali pada ajaran, akhlak, dan keluhuran budaya Islam.

 

Makna fitrah yang kedua adalah kesucian. Makna ini berdasarkan hadits Nabi (artinya), "Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, mencabut/menghilangkan bulu ketiak, dan memotong kuku." (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Kelima macam fitrah ini semuanya kembali pada praktik kebersihan dan kesucian. Dapat disimpulkan kemudian bahwa makna fitrah adalah bersih dan suci. 

 

Minal 'Aidin ilal fithrah, berarti kita mengharap kembali menjadi orang bersih dan suci. Dengan keyakinan pada hadits Nabi, orang yang shiyam dan qiyam (berpuasa dan menghidupkan malam) di bulan Ramadhan, karena iman dan semata mencari ridha Allah, akan diampuni dosanya yang telah lalu. Harapannya, semoga kita seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibu, bersih-suci dari salah dan dosa. Amin...

 

Sementara panjatan doa "Semoga kita menuai kemenangan dengan meraih surga - Wal Faizin bil jannah", sangat terkait dengan tujuan puasa Ramadhan dan happy ending bagi orang yang berhasil membuktikan tujuan itu. 

 

Dalam al-Baqarah ayat 183 dijelaskan bahwa tujuan puasa Ramadhan adalah 'agar kalian bertakwa (la'allakum tattaqun)'. Sedangkan Surat al-Hijr ayat 45 dan Ali Imran ayat 133 menjelaskan, bagi orang bertakwa itu hadiahnya adalah surga.

 

Ringkasnya, puasa berdampak takwa. Takwa berhadiah surga.

Hal inilah yang menjadi harapan orang yang berpuasa Ramadhan. Ia ingin dijadikan sebagai orang bertakwa dengan sebenarnya, dan mengharap menjadi salah satu penghuni surga.

 

Itulah makna kemenangan yang terucap dalam 'wal faizin' itu. Bukan kemenangan atas Ramadhan, sehingga bebas melakukan keburukan karena merasa sudah 'menang'! 

 

Minta Maaf di Idul Fitri Keliru?

Orang yang minta maaf di hari Raya, in syaa-Allah tidak meyakini minta maaf itu hanya khusus di hari Raya. Ini adalah ikhtiar untuk kesempurnaan ibadah.

 

Islam agama paripurna. Tidak sempurna iman seseorang sampai dua sisi tali hablun minallah dan hablun minannas sama-sama dikuatkan. Dalam sekian hadits dijelaskan misalnya, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, 'hendaknya dia menghormati tamunya', 'hendaknya dia mengatakan yang baik atau diam', dan seterusnya. 

 

Surat al-Ma'un juga menjelaskan, pendusta hari pembalasan itu orang yang menolak anak yatim dan tidak memperdulikan orang miskin. Shalat itu tanha 'anil fahsyaa-i wal munkar. Zakat atau sedekah itu tuthahhiruhum wa tuzakkihim biha.

 

Dus, dari sekian penjelasan baik dari al-Qur'an maupun Sunnah itu, akhirnya seorang muslim sangat memahami, ada misi kebaikan secara vertikal dan horizontal. Siapa yang mengaku bertauhid, harus baik pula dalam wilayah sosial. Kalau puasa Ramadhan adalah hubungan baik secara vertikal, mengapa kemudian untuk minta maaf pascaramadhan sebagai ranah sosial dilarang?

 

Wallahu a'lam.

Akhirul kalam. 

Selamat merayakan Idul Fitri.

Taqabbalallahu minna wa minkum.

Minal 'aidin wal faizin.

Mohon maaf lahir batin...

 

Faris Khoirul Anam (Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur)

Monday, 28 May 2018 02:24

Kediri ( radiomadufm.com ) --- Munculnya gambar Ketua Pengurus Cabang Nahdatul Ulama ( PCNU) Kota Kediri, KH. Abu Bakar Abdul Jalil atau Gus Ab, yang viral media sosial ( Medsos ) yang dilatar belakangi ataupun dihiasi degan sejumlah foto  salah satu pasangan Calon ( Paslon ) Walikota dan Wakil Walikota Kediri, direspon bijak oleh Gus Ab.

 

Ketua PCNU Kota Kediri yang akrab di sapa Gus Ab mengakui sangat kaget dengan informasi itu karena sudah menyebar viral di Media Sosial,pihaknya mengetahui kondisi itu pada Sabtu ( 26/5/18 ) dengan langsung melakukan peruntutan siapa penyebar dan pengunggah foto dirinya tersebut hingga akhirnya ditemukan "pelakunya".

 

"kami telah mengetahui itu dan itu foto tidak benar alias hoax.Memang pihaknya membubuhkan tulisan silang merah dan tulisan hoax terhadap foto tersebut usai sebelumnya mendapatkan foto dirinya sudah beredar luas dimedsos alias viral,"ungkapnya saat dikonfirmasi,Senin (28/5/18)

 

 

Gus Ab menuturkan, pihaknya juga langsung meminta klarifikasi terhadap si pengunggah foto dirinya tersebut dan akan melakukan pemantuan terhadap si pengunggah yang di sinyalir sebagai salah satu tim pemenangan Paslon.

 

"sekitar jam 3 dini hari Minggu ( 27/5/18) si pengunggah langsung kami mintai klarifikasi dan pihaknya belum berencana melaporkan hal itu keranah hukum , namun pihaknya melakukan pemantauan terhadap si pengunggah foto dirinya tersebut untuk tidak melakukan tindakannya kembali.

 

 

Gus Ab  dengan tegas memberikan pernyataan tidak benar atau Hoax, atas gambar dirinya disandingkan dengan salah satu Paslon Walikota dan Wakil Walikota Kediri seperti yang menghiasi foto dirinya, dan bisa diartikan sebagai gambar Hoax. ” Itu gambar hoax ” imbuhnya.

 

 

Sejauh ini sesuai pernyataannya dari awal sebelum Pilkada bahwa sejauh NU belum menyatakan sikap untuk atau mendukung Pasangan Calon tertentu dan untuk itu himbauan bagi NU kota Kediri dalam Pilwali yang diselenggarakan pada 27 Juni 2018, nanti, dirinya berharap semuanya bersikap netral dan menyuarakan sesuai hati nurani masing masing.

 

” Ya, berharap warga NU kota Kediri Netral dalam Pilwali mendatang ” pungkas Gus Ab

 

Sekedar diketahui, beberapa pekan ini Medsos maupun Whatssap dikalangan Media beredar gambar Paslon Walikota dan Wakil Walikota Kediri yang mencantumkan gambar Ketua PCNU Kota Kediri, Gus Ab.(pd/ga)

Sunday, 27 May 2018 13:28
Tulungagung  ( radiomadufm.com) - - - Perbedaan dalam penentuan hari raya di kalangan umat Islam, oleh sebagian pihak dianggap sebagai kemunduran umat Islam. Hal ini mendorong beberapa pihak dari umat Islam untuk mencari metode dan landasan syar’i agar umat Islam seluruh dunia melaksanakan hari raya secara serentak, sebagaimana umat agama lain.
 
Walaupun gagasan tersebut sangat ideal, tetapi pada realitasnya mengalami banyak kendala. Pertama,  bentuk bumi yang bulan menyebabkan perbedaan kemungkinan terlihatnya hilal antara yang satu dengan yang lain (www.crescentwatch.org). Kedua, perbedaan siang dan malam di berbagai daerah di belahan bumi yang menyebabkan perbedaan waktu di bumi. 
 
Ketiga, ada beberapa landasan normatif yang menjadi pertimbangan mengapa umat Islam di seluruh dunia tidak bisa bersatu. Di antara landasan normatif tersebut adalah sebagai berikut.  
 
Diriwayatkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali:
 
أَنَّ أَمِيرَ مَكَّةَ خَطَبَ ثُمَّ قَالَ عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا 
 
“Bahwasanya gubenur Makkah (al-Harits bin Hatib) berkhutbah seraya berkata, ‘Rasulullah SAW telah meminta janji kita untuk melakukan manasik karena melihat (hilal), jika kita tidak melihatnya dan dua orang saksi yang adil menyaksikan, maka kita bermanasik dengan kesaksian keduanya.  (HR Abu Dawud) 
 
عَنْ كُرَيْبٍ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ فَقُلْتُ أَوَ لَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لَا هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 
Dari Kuraib: Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Harits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata : Lalu aku datang ke Syam, kemudian aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku hilal (Ramadlan), sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ; “Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan) ? maka aku menjawab : “Kami melihatnya pada malam Jum’at”.Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?” maka aku menjawab : “Ya ! Dan orang-orang juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah juga berpuasa”.Ia berkata : “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami  terus berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihatnya (hilal Syawwal) “. Aku bertanya : “Apakah tidak cukup dengan ru’yah dan puasanya Mu’awiyah ? Jawabnya : “Tidak ! demikianlah Rasulullah SAW, memerintahkan kepada kami”. (HR. Muslim)
Dalam kitab al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan:
 
عَنْ أَبِي وَائِلٍ ، قَالَ : " أَتَانَا كِتَابُ عُمَرَ وَنَحْنُ بِخَانقِينَ ؛ أَنَّ الأَهِلَّةَ بَعْضُهَا أَكْبَرُ مِنْ بَعْضٍ ، فَإِذَا رَأَيْتُمَ الْهِلاَلَ نَهَارًا فَلاَ تُفْطِرُوا ، حَتَّى يَشْهَدَ رَجُلاَنِ مُسْلِمَانِ أَنَّهُمَا رَأَيَاهُ بِالأَمْسِ
 
Diriwayatkan dari Abu Wa’il yang berkata, “surat Umar datang kepada kami sedngkan kami berada di Khanaqin (suatu daerah di Irak), ‘bahwa hilal (pada suatu bulan) lebih besar dari hilal yang lain. Jika kalian melihat hilal di siang hari janganlah berhari raya sampai ada dua orang laki-laki muslim yang melihatnya di hari kemarin’.” 
 
Dari beberapa hadits tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kota Makkah, negeri Syam, dan kota Khanaqin, tidak mengikuti hasil rukyatul hilal kota Madinah, tetapi masing-masing daerah melakukan rukyatul hilal mandiri. Alasan rasionalnya adalah bahwa masing-masing daerah tersebut letaknya berjauhan dan visibilitas hilalnya beragam.  
 
 
Ahmad Musonnif, pengurus Lembaga Falakiyah PCNU Tulungagung. (Sumber  NUonline) 
Sunday, 27 May 2018 13:28
Tulungagung  ( radiomadufm.com) - - - Perbedaan dalam penentuan hari raya di kalangan umat Islam, oleh sebagian pihak dianggap sebagai kemunduran umat Islam. Hal ini mendorong beberapa pihak dari umat Islam untuk mencari metode dan landasan syar’i agar umat Islam seluruh dunia melaksanakan hari raya secara serentak, sebagaimana umat agama lain.
 
Walaupun gagasan tersebut sangat ideal, tetapi pada realitasnya mengalami banyak kendala. Pertama,  bentuk bumi yang bulan menyebabkan perbedaan kemungkinan terlihatnya hilal antara yang satu dengan yang lain (www.crescentwatch.org). Kedua, perbedaan siang dan malam di berbagai daerah di belahan bumi yang menyebabkan perbedaan waktu di bumi. 
 
Ketiga, ada beberapa landasan normatif yang menjadi pertimbangan mengapa umat Islam di seluruh dunia tidak bisa bersatu. Di antara landasan normatif tersebut adalah sebagai berikut.  
 
Diriwayatkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali:
 
أَنَّ أَمِيرَ مَكَّةَ خَطَبَ ثُمَّ قَالَ عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا 
 
“Bahwasanya gubenur Makkah (al-Harits bin Hatib) berkhutbah seraya berkata, ‘Rasulullah SAW telah meminta janji kita untuk melakukan manasik karena melihat (hilal), jika kita tidak melihatnya dan dua orang saksi yang adil menyaksikan, maka kita bermanasik dengan kesaksian keduanya.  (HR Abu Dawud) 
 
عَنْ كُرَيْبٍ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ فَقُلْتُ أَوَ لَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لَا هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 
Dari Kuraib: Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Harits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata : Lalu aku datang ke Syam, kemudian aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku hilal (Ramadlan), sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ; “Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan) ? maka aku menjawab : “Kami melihatnya pada malam Jum’at”.Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?” maka aku menjawab : “Ya ! Dan orang-orang juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah juga berpuasa”.Ia berkata : “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami  terus berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihatnya (hilal Syawwal) “. Aku bertanya : “Apakah tidak cukup dengan ru’yah dan puasanya Mu’awiyah ? Jawabnya : “Tidak ! demikianlah Rasulullah SAW, memerintahkan kepada kami”. (HR. Muslim)
Dalam kitab al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan:
 
عَنْ أَبِي وَائِلٍ ، قَالَ : " أَتَانَا كِتَابُ عُمَرَ وَنَحْنُ بِخَانقِينَ ؛ أَنَّ الأَهِلَّةَ بَعْضُهَا أَكْبَرُ مِنْ بَعْضٍ ، فَإِذَا رَأَيْتُمَ الْهِلاَلَ نَهَارًا فَلاَ تُفْطِرُوا ، حَتَّى يَشْهَدَ رَجُلاَنِ مُسْلِمَانِ أَنَّهُمَا رَأَيَاهُ بِالأَمْسِ
 
Diriwayatkan dari Abu Wa’il yang berkata, “surat Umar datang kepada kami sedngkan kami berada di Khanaqin (suatu daerah di Irak), ‘bahwa hilal (pada suatu bulan) lebih besar dari hilal yang lain. Jika kalian melihat hilal di siang hari janganlah berhari raya sampai ada dua orang laki-laki muslim yang melihatnya di hari kemarin’.” 
 
Dari beberapa hadits tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kota Makkah, negeri Syam, dan kota Khanaqin, tidak mengikuti hasil rukyatul hilal kota Madinah, tetapi masing-masing daerah melakukan rukyatul hilal mandiri. Alasan rasionalnya adalah bahwa masing-masing daerah tersebut letaknya berjauhan dan visibilitas hilalnya beragam.  
 
 
Ahmad Musonnif, pengurus Lembaga Falakiyah PCNU Tulungagung. (Sumber  NUonline) 
Sunday, 27 May 2018 13:28
Tulungagung  ( radiomadufm.com) - - - Perbedaan dalam penentuan hari raya di kalangan umat Islam, oleh sebagian pihak dianggap sebagai kemunduran umat Islam. Hal ini mendorong beberapa pihak dari umat Islam untuk mencari metode dan landasan syar’i agar umat Islam seluruh dunia melaksanakan hari raya secara serentak, sebagaimana umat agama lain.
 
Walaupun gagasan tersebut sangat ideal, tetapi pada realitasnya mengalami banyak kendala. Pertama,  bentuk bumi yang bulan menyebabkan perbedaan kemungkinan terlihatnya hilal antara yang satu dengan yang lain (www.crescentwatch.org). Kedua, perbedaan siang dan malam di berbagai daerah di belahan bumi yang menyebabkan perbedaan waktu di bumi. 
 
Ketiga, ada beberapa landasan normatif yang menjadi pertimbangan mengapa umat Islam di seluruh dunia tidak bisa bersatu. Di antara landasan normatif tersebut adalah sebagai berikut.  
 
Diriwayatkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali:
 
أَنَّ أَمِيرَ مَكَّةَ خَطَبَ ثُمَّ قَالَ عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا 
 
“Bahwasanya gubenur Makkah (al-Harits bin Hatib) berkhutbah seraya berkata, ‘Rasulullah SAW telah meminta janji kita untuk melakukan manasik karena melihat (hilal), jika kita tidak melihatnya dan dua orang saksi yang adil menyaksikan, maka kita bermanasik dengan kesaksian keduanya.  (HR Abu Dawud) 
 
عَنْ كُرَيْبٍ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ فَقُلْتُ أَوَ لَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لَا هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 
Dari Kuraib: Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Harits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata : Lalu aku datang ke Syam, kemudian aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku hilal (Ramadlan), sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ; “Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan) ? maka aku menjawab : “Kami melihatnya pada malam Jum’at”.Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?” maka aku menjawab : “Ya ! Dan orang-orang juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah juga berpuasa”.Ia berkata : “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami  terus berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihatnya (hilal Syawwal) “. Aku bertanya : “Apakah tidak cukup dengan ru’yah dan puasanya Mu’awiyah ? Jawabnya : “Tidak ! demikianlah Rasulullah SAW, memerintahkan kepada kami”. (HR. Muslim)
Dalam kitab al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan:
 
عَنْ أَبِي وَائِلٍ ، قَالَ : " أَتَانَا كِتَابُ عُمَرَ وَنَحْنُ بِخَانقِينَ ؛ أَنَّ الأَهِلَّةَ بَعْضُهَا أَكْبَرُ مِنْ بَعْضٍ ، فَإِذَا رَأَيْتُمَ الْهِلاَلَ نَهَارًا فَلاَ تُفْطِرُوا ، حَتَّى يَشْهَدَ رَجُلاَنِ مُسْلِمَانِ أَنَّهُمَا رَأَيَاهُ بِالأَمْسِ
 
Diriwayatkan dari Abu Wa’il yang berkata, “surat Umar datang kepada kami sedngkan kami berada di Khanaqin (suatu daerah di Irak), ‘bahwa hilal (pada suatu bulan) lebih besar dari hilal yang lain. Jika kalian melihat hilal di siang hari janganlah berhari raya sampai ada dua orang laki-laki muslim yang melihatnya di hari kemarin’.” 
 
Dari beberapa hadits tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kota Makkah, negeri Syam, dan kota Khanaqin, tidak mengikuti hasil rukyatul hilal kota Madinah, tetapi masing-masing daerah melakukan rukyatul hilal mandiri. Alasan rasionalnya adalah bahwa masing-masing daerah tersebut letaknya berjauhan dan visibilitas hilalnya beragam.  
 
 
Ahmad Musonnif, pengurus Lembaga Falakiyah PCNU Tulungagung. (Sumber  NUonline) 
Sunday, 20 May 2018 23:22

 

Kediri ( radiomadufm.com ) ---Tambang "Raksasa" Galian C di Dusun Gunung Bothak, Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri sebabkan salah seorang operator alat berat tewas setelah terjatuh dari tebing.Korban bernama Kasno (55). Operator alat berat jenis Doser ini beralamat di Desa Wilangan, Kabupaten Nganjuk.

 

Dari data yang dihimpun pihak Kepolisian, Peristiwa ini terjadi di lokasi pertambangan milik Siswanto (48),  pada Minggu (20/5/18) sekitar pukul 13.00 WIB. Awalnya, Slamet widodo (30) asal Dusun Gunung Bothak, Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, karyawan bagian pengisian BBM solar ini mencari keberadaan alat berat jenis Doser ditempat kerja. Ternyata tidak ada. Dan mendengar suara keras brak sehingga melakukan pencarian dan didapati alat berat yang di cari jatuh dari tebing saat mau membawa ke tempat istirahatnya atau turun dari tempat kerja. Mengingat kontrak kerja kurang 4 jam habis. Korban tewas dengan posisi tertelungkup, kepala tertanam disamping alat kerja.

 

Kemudian Slamet Widodo menghubungi teman-temanya dan melaporkan kepada pemilik tambang Siswanto. Akhirnya Siswanto melaporkan kejadian ini ke Polsek Tarokan lewat telephon kepada Kapolsek AKP Sukarman.

 

Anggota Polsek Tarokan lantas datang ke lokasi untuk melakukan olah TKP. Kemudian korban dievakuasi dan dibawah ke Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Kediri.Tidak ada unsur kesengajaan dalam peristiwa ini. Diduga karena kurang hati-hati sehingga tdk dapat menguasai alat kerjanya saat turun mengakibatkan terjatuh dari jalan menuju tempat istirahat.

 

 

Kapolsek kemudian menghubungi keluarga korban di Desa Wilangan, Kabupaten Nganjuk untuk dapatnya mesmastikan bila dia adalah anggota keluarganya untuk dapat hadir di RS Bhayangkara.(pd/ga)

Saturday, 19 May 2018 20:23

Kediri ( radiomadufm.com )  ----Satreskrim Polres Kediri telah berhasil menangkap pelaku pembunuhan terhadap Sunarti (39), ibu rumah tangga yang jasadnya ditemukan dikubur dengan telapak kaki "nyembul" diatas pemakaman lama TPU Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. Pelaku seorang paranormal.

Pelaku berinisial NK, tinggal di Jalan Wilis Desa Tertek, Kecamatan Pare, Kabuaten Kediri. Pria 45 tahun ini masih menjalani serangkaian pemeriksaan di Polres Kediri.

"Pekerjan tersangka swasta. Katanya orang 'pinter'," ujar Kapolres Kediri, AKBP Erick Hermawan, Sabtu (19/5/18).

Kapolres belum membeber identitas tersangka secara detail. Tetapi, dirinya menyebut tersangka adalah teman dari suami korban Mukayat, seorang kontraktor kaya yang berasal dari Desa Watudandang, Kabupaten Nganjuk.

Ditanya motivasi pelaku membunuh korban? Kapolres juga belum menjawab secara gamblang. Hanya berdasarkan pengakuan tersangka berkaitan dengan sebuah kegiatan spiritual.

Polisi masih mengembangkan kasus ini untuk mengungkap keterlibatan orang lain dalam pembunuhan korban. Petugas tengah meminta sejumlah saksi, termasuk suami korban.

Dari pemeriksaan sementara polisi, diketahui adanya luka di wajah korban. Sementara penyebab kematian korban kini masih dalam proses pendalaman, sembari menunggu hasil otopsi dari RS Bhayangkara, Kota Kediri.

Sebagaimana diketahui, Sunarti dibunuh dan jasadnya dikubur diatas makan warga di TPU Desa Tegowangi. Sebelum nyawanya direnggut, ibu dua anak ini pamit suaminya pergi ke Kecamatan Pare untuk menemui temannya. Korban pergi bersama dua orang anaknya dengan mengendarai sebuah mobil. Korban sempat mampir di rumah mertuanya di Desa Watudandang, Nganjuk untuk menurunkan dua anaknya. Setelah itu, dia meneruskan perjalanan ke Pare.

Diduga korban bertemu dengan pelaku, kemudian dihabisi. Sementara kabar kematian korban baru diketahui, setelah Diono (58) petani asal Desa Tegowangi menemukan jasadnya setelah melihat ada satu kaki keluar diatas makam. (pd/ga)

 
 
 
 
 
Wednesday, 16 May 2018 15:12

Kediri ( radiomadufm.com) -- Warga digemparkan dengan munculnya telapak Kaki ‘Nyembul’ di pemakaman Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan ,Kabupaten Kediri. Warga terkejut akan kondisi kuburan yang masih baru.

 

Penemuan mayat perempuan yang diduga korban pembunuhan ini awalnya diketahui oleh Diono (58) seorang buruh tani asal Desa setempat. Saat Diono hendak mengambil potongan pohon bambu di tempat pemakaman umum, melihat ada satu kaki keluar dari makam.

 

Karena ketakutan, akhirnya Diono memberitahu masyarakat setempat. Akhirnya temuan itu dilaporkan ke Polsek Plemahan. Tak berselang setelah laporan itu, anggota polisi datang ke lokasi.

 

Anggota Polsek Plemahan datang bersama Tim Identifikasi Polres Kediri. Petugas kemudian membongkarnya. Ternyata ada sosok mayat perempuan masih baru yang dikubur diatas makam lama.

 

“Saat saksi mengambil potongan bambu ia melihat ada kaki kanan keluar di bekas makam lama orang lain. Spontan saksi ketakutan dan memberitahu warga sekitar,” tutur AKP Surono Kapolsek Plemahan, Rabu (16/5/18).

 

Lebih Lanjut Surono menjelaskan, identitasnya belum diketahui dan memiliki ciri-ciri badan gemuk, rambut panjang dan pirang, tinggi badan 150 centimeter, memakai baju hem warna motif abu-abu, dan memakai celana jeans panjang warna biru.

 

“Saat ditemukan kondisi korban tengkurap dan wajah korban sudah rusak serta mulut terluka. Diperkirakan korban berumur 30 sampai 40 tahun, jam tangan dan 1 cincin warna kuning. Kami tidak menemukan identitas korban,” jelasnya.

 

Guna kepentingan penyelidikan, mayat perempuan itu dibawa ke rumah sakit Bhayangkara Kota Kediri untuk dilakukan otopsi.(sj/pd)

Sunday, 06 May 2018 22:12

Kediri  ( radiomadufm.com)  -- Parta Nasdem Kota Kediri Lounching Mobil Panggung Songsong Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden 2019. Armada kampanye ini dapat dipinjam oleh seluruh masyarakat secara gratis nantinya. 

 

 

Launching Mobil Panggung berlangsung di halaman rumah Ketua DPD Partai NasDem Kota Kediri. Selain para pengurus dan para kader partai, juga dihadiri Calon Walikota Kediri nomor urut dua, Abdullah Abu Bakar yang diusung dalam Pilihan Walikota Kediri 2018. 

 

 

"Mobil kampanye ini pemberian DPP. Keunggulannya, baru Partai NasDem yang punya. Mobil ini bisa menjadi panggung terbuka dan berisi satu set alat electone," kata Nafis Kurtubi, Minggu (6/5/18).

 

 

Karena menjadi armada kampanye, imbuh anggota DPRD Kota Kediri ini, Mobil Panggung tidak hanya diperuntukkan bagi pengurus Partai NasDem. Tetapi masyarakat umum juga bisa meminjamnya secara gratis. 

 

 

" dalam launching ini juga sekaligus sosialisasi pendaftaran anggota legislatif. Sebab, sejak pendaftaran dibuka Januari 2018 lalu, hingga kini jumlah pendaftar baru 70 persen dari total bakal calon anggota legilatif (bacaleg) yang dibutuhkan 30 kursi DPRD Kota Kediri, "akunya. 

 

 

"Pendaftaran Pileg sejak Januari kemarin baru 70 persen, masih sangat kurang karena kurang 30 persen, dan 20 persen diantarnya kekurangan para keterwakilan perempuan," beber Nafis.

 

 

Berdasarkan data pendaftar di DPD Partai NasDem Kota Kediri, untuk dapil satu baru ada tujuh pendaftar dari sembilan yang dibutuhkan. Dapil dua ada enam pendaftar dari sembilan kebutuhan dan dapil tiga hanya tiga pendaftar dari 12 orang yang dibutuhkan.

 

 

Untuk mencukupi quota yang disyaratkan, DPD Partai NasDem Kota Kediri akan meminta bantuan kepada sejumlah partai politik rekan koalisi pengusung dalam Pilwali Kediri 2018. 

 

 

Dikatakan Nafis, untuk menjadi bacaleg Partai NasDem syaratnya sangat mudah serta tanpa mahar alias gratis. Sebagaimana motto Partai 'NasDem Memanggil', maka seluruh masyarakat bisa bergabung.

 

 

"Kita tidak prioritasnya pengurus. Silahkan datang, tidak ada perbedaan pendatang baru atau lama. Dan syaratnya tanpa mahar, baik mengusung Pilkada maupun Pileg adalah gratis," tandas Nafis.

 

 

Lalu apa kriteria yang dicari oleh Partai NasDem? Nafis menjawab paling utama adalah beridielogi Pancasila. Kedua berkelakuan baik dibuktikan dengan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dan bersedia membesarkan Partai NasDem dengan jargon 'Gerakan Perubahan'.

 

 

Abdullah Abu Bakar, calon Walikota Kediri non aktif terlihat hadir dan kehadirannya dalam memenuhi undangan DPD Partai NasDem, bukan berkampanye saat memberikan sambutannya. Dihadapan pengurus dan puluhan kader, Walikota Kediri non aktif ini berbicara banyak hal tentang program-program yang sudah dilaksanakan, diantaranya, Program Pemberdayaan Masyarakat (Prodamas) di Kota Kediri.

 

 

"Dengan Prodamas, salah satunya kita bisa melihat sebuah kampung yang kini berseri," kata Mas Abu--panggilan akrab Abdullah Abu Bakar. Lalu, Mas Abu juga berbicara tentang Program English Massive (E-Mas).

 

 

"Kalau dulu masyarakat tidak punya uang dan tidak bisa ngeleskan anaknya, dengan English Massive sekarang bisa. Program English Massive bisa meningkatkan Indek Pembangunan Manusia (IPM). Bisa menjadi sangu hidup," ujar Mas Abu.  (em/ga) 

Saturday, 05 May 2018 20:54

Kediri ( radiomadufm.com ) - Paska pemberitaan adanya siswi pemegang KIP yang terancam tidak dapat ikut ujian akhirnya sejumlah donatur mengalir ke keluarga LN, siswi kelas X SMA Negeri  di Kota Kediri dan dipastikan tetap bisa mengikuti ujian semester genap tahun 2018, meskipun orang tuanya kesulitan mendapatkan uang untuk melunasi tunggakan biaya sekolah. Kepastian ini disampaikan langsung oleh pihak sekolah. 

 

"Ujian tidak ada hubungannya dengan pembayaran, tapi sekolah tetap menyarankan agar anak lunas. Karena biaya tersebut dipakai untuk kegiatan sekolah," tulis Juwari, Waka Kesiswaan SMAN LN bernaung melalui pesan whatsappnya, Sabtu (5/5/18). 

 

Kendati memiliki tunggakan selama dua semester, imbuh Juwari, LN tetap mendapatkan kartu ujian. Artinya, sekolah memastikan bahwa, siswi berprestasi di bidang olahraga ini tetap bisa mengikuti ujian semester yang sedianya akan dilaksanakan, pada Senin (8/5/18) besok.

 

Namun, ada prosedur yang harus ditempuh oleh orang ruanya bila mana tetapi tidak sanggup melunasi. Yaitu, Yakub harus datang ke sekolah untuk membuat surat pernyataan yang isinya bahwa orang tua memiliki kesanggupan waktu membayar.

 

"Kalau tidak boleh ujian, anak tersebut semester satu mestinya tidak bisa ikut. Tapi dia tetap ujian meskipun nunggal di semester satu. Jadi, ujian tidak ada hubungannya dengan pembayaran," beber Juwari. 

 

Disinggung mengenai kepemilikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang menandakan pelajar miskin. Tetapi kenyataanya, LN tetap 'tidak bisa terbebas' dari biaya pendidikan? Juwari menjawab apabila KIP memiliki mekanisme sendiri. Bantuan KIP berasal dari pemerintah pusat, dan langsung diterima siswa melalui rekening pribadinya.

 

Sumbangan terus mengalir ke LN melalui orang tuanya. Tidak hanya dari kalangan DPRD dan masyarakat umum, bantuan juga datang dari para jurnalis di Kediri. 

 

Yakub mengaku, sangat berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantunya. Bekas pedagang nasi goreng di Surabaya, yang memutuskan berhenti bekerja karena sakit jantung ini mengaku, akan menyerahkan sumbangan dari pada dermawan untuk melunasi tunggakan biaya sekolah putrinya sebesar Rp 3.611.000.

 

"Terima kasih semuanya yang sudah peduli terhadap kami. Terima kasih atas sumbangannya," kata Yakub di rumahnya. Bahkan, imbuh warga Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri ini, ada beberapa pihak yang datang untuk melunasi seluruh tunggakan biaya sekolah LN. 

 

Diberitakan sebelumnya, LN, siswi kelas X SMAN di Kota Kediri terancam tidak bisa mengikuti ujian semester, lantaran mengalami kesulitan biaya sekolah. Dia memiliki tanggungan sebesar Rp 3.611.000. Tarikan tersebut terinci untuk beli seragam, buku, dan SPP selama dua semester. (em/ga) 

Live Madu TV

Live Radio Madu FM



Get connected with Us