Breaking News
Telapak Kaki "Nyembul" Di Atas Makam - Wednesday, 16 May 2018 15:12
Walikota Serahkan Kunci Di Program Bedah Rumah - Saturday, 10 February 2018 07:20
IMB Bagi Masjid Di Kota Kediri - Friday, 09 February 2018 08:01
Transaksi Non Tunai Bagi Guru Madin TPA - Friday, 09 February 2018 08:01
ProDaMas 2018 Mulai Terealisasi - Wednesday, 07 February 2018 11:11
Dua Santri Hanyut Diterjang Air Bah - Tuesday, 06 February 2018 02:06
Polisi Tangkap Pembuang Bayi - Monday, 05 February 2018 11:05
Hari Kanker Sedunia Di CFD Jalan Dhoho - Sunday, 04 February 2018 06:13
Puluhan Warga Terpaksa Menutup Operasional MJB - Saturday, 03 February 2018 10:11
Puluhan Massa "Cari" Kepala Kantor BPMPD - Friday, 02 February 2018 23:45
ProDaMas 2018 Segera Direalisasikan - Friday, 02 February 2018 12:12
Pendidikan

Pendidikan (15)

 

Surabaya ( radiomadufm.com ) -----Biasanya jelang Hari Raya ada yg memviralkan menyalahkan ucapan Minal Aidin wal Faizin.

 

*Ini tanggapannya:*

 

Pada hari-hari di penghujung Ramadhan ini, beredar BC bertajuk 'Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah?' Seingat saya, jelang hari raya di tahun-tahun sebelumnya, BC tersebut juga tersebar. 

 

Intinya, tulisan itu 'mempermasalahkan' beberapa hal yang telah menjadi tradisi kebiasaan umat Islam, khususnya di Indonesia.

 

Berikut isi lengkap tulisan by no name yang menyebar via BB, WA, atau media sosial lainnya:

 

"Sehubungan dengan akan datangnya Idul Fitri, sering kita dengar tersebar ucapan: “MOHON MAAF LAHIR&BATHIN”. 

 

Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf.

Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri. 

 

Demikian Rasulullah mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur'an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri.

 

Satu lagi, saat Idul Fithri, yakni mengucapan : "MINAL'AIDIN WAL FAIZIN". Arti dari ucapan tersebut adalah: “Kita kembali&meraih kemenangan.” 

 

KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan? 

 

Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yg ucapkan "Minal‘Aidin wal Faizin” Lantas diikuti dengan kalimat "Mohon Maaf Lahir&Batin ”. 

 

Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa.

 

Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.. PASTI PADA BINGUNG!

 

Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.

 

Ucapan yg lebih baik & dicontohkan langsung oleh para sahabat ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

 

"TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM" (Semoga Allah menerima amalku & amal kalian). Jadi lebih baik, ucapan/SMS/BBM kita: Taqobbalallahu minna wa minkum. (Selesai)

 

TANGGAPAN

Riwayat 'Taqabbalallahu Minna wa Minkum' dan Ihwal Ucapan Selainnya

 

Riwayat yang menjelaskan ucapan 'Taqabbalallahu Minna wa Minkum' dituturkan oleh Muhammad bin Ziyad. Ia menceritakan kejadian kala bersama Abu Umamah al-Bahili dan lainnya dari sahabat Rasulullah SAW. Syahdan, sepulang dari Shalat Id, mereka saling mengatakan, 

 

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ

 

Imam Ahmad menjelaskan, sanad hadits Abu Umamah ini Jayyid. 

 

Ali bin Tsabit berujar, 

 

سألت مالك بن أنس منذ خمس وثلاثين سنة وقال: لم يزل يعرف هذا بالمدينة.

"Aku bertanya pada Malik bin Anas sejak 35 tahun. Dia menjawab, 'Hal (ucapan) ini selalu ditradisikan di Madinah."

 

Dalam Sunan al-Baihaqi disebutkan,

 

عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ قَالَ: لَقِيتُ وَاثِلَةَ بْنَ الأَسْقَعِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، قَالَ وَاثِلَةُ: لَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ.

Diriwayatkan dari Khalid bin Ma'dan, ia berkata, "Aku bertemu Watsilah bin Asqa' pada hari Raya. Aku katakan padanya: Taqabbalallahu minna wa minka. Watsilah menanggapi, 'Aku pernah bertemu Rasulullah SAW pada hari raya, lantas aku katakan 'Taqabbalallahu minna wa minka'. Beliau menjawab, 'Ya, Taqabbalallahu minna wa minka."

 

Kedua riwayat ini memberikan benang merah, ucapan 'Taqabbalallahu minna wa minka' merupakan bacaan yang disyariatkan (masyru') dan hukum mengucapkannya sunnah.

 

Apakah Ucapan Lain Tidak Boleh?

Ucapan selamat atau tahniah atas datangnya momen tertentu bisa saja merupakan tradisi atau adat. Sementara hukum asal suatu adat adalah boleh, selagi tidak ada dalil tertentu yang mengubah dari hukum asli ini. Hal ini juga merupakan madzhab Imam Ahmad. Mayoritas ulama menyatakan, ucapan selamat pada hari raya hukumnya boleh (lihat: al-Adab al-Syar'iyah, jilid 3, hal. 219).

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, ucapan selamat (tahniah) secara umum diperbolehkan, karena adanya nikmat, atau terhindar dari suatu musibah, dianalogikan dengan validitas sujud syukur dan ta'ziyah (lihat al-Mausu'ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, jilid 14, hal 99-100).

 

Berdasarkan keterangan di atas, maka setiap ucapan baik, apalagi merupakan doa, dalam momen nikmat atau bahkan musibah, adalah sesuatu yang boleh, bahkan baik untuk dilakukan. Dengan kalam lain, ucapan di Idul Fitri yang terbaik memang 'taqabbalallahu minna wa minkum'. Namun bukan berarti doa dan ucapan lain yang baik itu tidak diperbolehkan.

 

Meluruskan Makna Minal 'Aidin Wal Faizin

Minal 'Aidin wal Faizin dalam bahasa Indonesia berarti 'Semoga kita termasuk orang yang kembali dan menuai kemenangan'. 

 

Kita yakin, orang yang mengucapkannya tidak akan memaknainya 'kembali pada kemaksiatan pascaramadhan, meraih kemenangan atas bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan'. 

 

Pun, jangan memaknai Minal 'Aidin Wal Faizin' dengan 'Mohon Maaf Lahir Batin', hanya karena biasanya dua kalimat itu beriringan satu sama lain. Itu sama saja dengan 'membahasa-Inggriskan' keset dengan welcome, dengan alasan tulisan itu biasanya ada di keset.

 

Makna popular kalimat tersebut adalah 'Ja'alanallahu wa iyyakum MINAL 'AIDIN ilal fithrah WAL FAIZIN bil jannah' (Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang kembali pada fitrah dan menuai kemenangan dengan meraih surga).

 

Jadi jangan khawatir. Maknanya bukan kembali ke perbuatan maksiat dan menang telah menaklukkan Ramadhan. Tanda orang yang diterima ibadahnya, ia makin meningkatkan ketaatan dan makin meninggalkan kemaksiatan (min 'alamati qabulit-tha'ah fa innah tajurru ila tha'atin ukhra).

 

Apa makna fitrah? Setidaknya ia memiliki dua makna: Islam dan kesucian. 

Makna pertama diisyaratkan oleh hadits (artinya): "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia (sebagai/seperti) Yahudi, Nasrani, atau Majusi." 

 

Sisi pengambilan kesimpulan hukum atau wajh al-istidlal-nya, Nabi telah menyebutkan agama-agama besar kala itu, namun Nabi tidak menyebutkan Islam. Maka fitrah diartikan sebagai Islam. 

 

Dengan ujaran lain, makna kembali ke fitrah adalah kembali ke Islam, kembali pada ajaran, akhlak, dan keluhuran budaya Islam.

 

Makna fitrah yang kedua adalah kesucian. Makna ini berdasarkan hadits Nabi (artinya), "Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, mencabut/menghilangkan bulu ketiak, dan memotong kuku." (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Kelima macam fitrah ini semuanya kembali pada praktik kebersihan dan kesucian. Dapat disimpulkan kemudian bahwa makna fitrah adalah bersih dan suci. 

 

Minal 'Aidin ilal fithrah, berarti kita mengharap kembali menjadi orang bersih dan suci. Dengan keyakinan pada hadits Nabi, orang yang shiyam dan qiyam (berpuasa dan menghidupkan malam) di bulan Ramadhan, karena iman dan semata mencari ridha Allah, akan diampuni dosanya yang telah lalu. Harapannya, semoga kita seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibu, bersih-suci dari salah dan dosa. Amin...

 

Sementara panjatan doa "Semoga kita menuai kemenangan dengan meraih surga - Wal Faizin bil jannah", sangat terkait dengan tujuan puasa Ramadhan dan happy ending bagi orang yang berhasil membuktikan tujuan itu. 

 

Dalam al-Baqarah ayat 183 dijelaskan bahwa tujuan puasa Ramadhan adalah 'agar kalian bertakwa (la'allakum tattaqun)'. Sedangkan Surat al-Hijr ayat 45 dan Ali Imran ayat 133 menjelaskan, bagi orang bertakwa itu hadiahnya adalah surga.

 

Ringkasnya, puasa berdampak takwa. Takwa berhadiah surga.

Hal inilah yang menjadi harapan orang yang berpuasa Ramadhan. Ia ingin dijadikan sebagai orang bertakwa dengan sebenarnya, dan mengharap menjadi salah satu penghuni surga.

 

Itulah makna kemenangan yang terucap dalam 'wal faizin' itu. Bukan kemenangan atas Ramadhan, sehingga bebas melakukan keburukan karena merasa sudah 'menang'! 

 

Minta Maaf di Idul Fitri Keliru?

Orang yang minta maaf di hari Raya, in syaa-Allah tidak meyakini minta maaf itu hanya khusus di hari Raya. Ini adalah ikhtiar untuk kesempurnaan ibadah.

 

Islam agama paripurna. Tidak sempurna iman seseorang sampai dua sisi tali hablun minallah dan hablun minannas sama-sama dikuatkan. Dalam sekian hadits dijelaskan misalnya, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, 'hendaknya dia menghormati tamunya', 'hendaknya dia mengatakan yang baik atau diam', dan seterusnya. 

 

Surat al-Ma'un juga menjelaskan, pendusta hari pembalasan itu orang yang menolak anak yatim dan tidak memperdulikan orang miskin. Shalat itu tanha 'anil fahsyaa-i wal munkar. Zakat atau sedekah itu tuthahhiruhum wa tuzakkihim biha.

 

Dus, dari sekian penjelasan baik dari al-Qur'an maupun Sunnah itu, akhirnya seorang muslim sangat memahami, ada misi kebaikan secara vertikal dan horizontal. Siapa yang mengaku bertauhid, harus baik pula dalam wilayah sosial. Kalau puasa Ramadhan adalah hubungan baik secara vertikal, mengapa kemudian untuk minta maaf pascaramadhan sebagai ranah sosial dilarang?

 

Wallahu a'lam.

Akhirul kalam. 

Selamat merayakan Idul Fitri.

Taqabbalallahu minna wa minkum.

Minal 'aidin wal faizin.

Mohon maaf lahir batin...

 

Faris Khoirul Anam (Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur)

Sunday, 27 May 2018 13:28

Perbedaan Dalam Penentuan Hari Raya

Written by
Tulungagung  ( radiomadufm.com) - - - Perbedaan dalam penentuan hari raya di kalangan umat Islam, oleh sebagian pihak dianggap sebagai kemunduran umat Islam. Hal ini mendorong beberapa pihak dari umat Islam untuk mencari metode dan landasan syar’i agar umat Islam seluruh dunia melaksanakan hari raya secara serentak, sebagaimana umat agama lain.
 
Walaupun gagasan tersebut sangat ideal, tetapi pada realitasnya mengalami banyak kendala. Pertama,  bentuk bumi yang bulan menyebabkan perbedaan kemungkinan terlihatnya hilal antara yang satu dengan yang lain (www.crescentwatch.org). Kedua, perbedaan siang dan malam di berbagai daerah di belahan bumi yang menyebabkan perbedaan waktu di bumi. 
 
Ketiga, ada beberapa landasan normatif yang menjadi pertimbangan mengapa umat Islam di seluruh dunia tidak bisa bersatu. Di antara landasan normatif tersebut adalah sebagai berikut.  
 
Diriwayatkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali:
 
أَنَّ أَمِيرَ مَكَّةَ خَطَبَ ثُمَّ قَالَ عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا 
 
“Bahwasanya gubenur Makkah (al-Harits bin Hatib) berkhutbah seraya berkata, ‘Rasulullah SAW telah meminta janji kita untuk melakukan manasik karena melihat (hilal), jika kita tidak melihatnya dan dua orang saksi yang adil menyaksikan, maka kita bermanasik dengan kesaksian keduanya.  (HR Abu Dawud) 
 
عَنْ كُرَيْبٍ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ فَقُلْتُ أَوَ لَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لَا هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 
Dari Kuraib: Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Harits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata : Lalu aku datang ke Syam, kemudian aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku hilal (Ramadlan), sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ; “Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan) ? maka aku menjawab : “Kami melihatnya pada malam Jum’at”.Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?” maka aku menjawab : “Ya ! Dan orang-orang juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah juga berpuasa”.Ia berkata : “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami  terus berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihatnya (hilal Syawwal) “. Aku bertanya : “Apakah tidak cukup dengan ru’yah dan puasanya Mu’awiyah ? Jawabnya : “Tidak ! demikianlah Rasulullah SAW, memerintahkan kepada kami”. (HR. Muslim)
Dalam kitab al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan:
 
عَنْ أَبِي وَائِلٍ ، قَالَ : " أَتَانَا كِتَابُ عُمَرَ وَنَحْنُ بِخَانقِينَ ؛ أَنَّ الأَهِلَّةَ بَعْضُهَا أَكْبَرُ مِنْ بَعْضٍ ، فَإِذَا رَأَيْتُمَ الْهِلاَلَ نَهَارًا فَلاَ تُفْطِرُوا ، حَتَّى يَشْهَدَ رَجُلاَنِ مُسْلِمَانِ أَنَّهُمَا رَأَيَاهُ بِالأَمْسِ
 
Diriwayatkan dari Abu Wa’il yang berkata, “surat Umar datang kepada kami sedngkan kami berada di Khanaqin (suatu daerah di Irak), ‘bahwa hilal (pada suatu bulan) lebih besar dari hilal yang lain. Jika kalian melihat hilal di siang hari janganlah berhari raya sampai ada dua orang laki-laki muslim yang melihatnya di hari kemarin’.” 
 
Dari beberapa hadits tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kota Makkah, negeri Syam, dan kota Khanaqin, tidak mengikuti hasil rukyatul hilal kota Madinah, tetapi masing-masing daerah melakukan rukyatul hilal mandiri. Alasan rasionalnya adalah bahwa masing-masing daerah tersebut letaknya berjauhan dan visibilitas hilalnya beragam.  
 
 
Ahmad Musonnif, pengurus Lembaga Falakiyah PCNU Tulungagung. (Sumber  NUonline) 
Sunday, 27 May 2018 13:28

Perbedaan Dalam Penentuan Hari Raya

Written by
Tulungagung  ( radiomadufm.com) - - - Perbedaan dalam penentuan hari raya di kalangan umat Islam, oleh sebagian pihak dianggap sebagai kemunduran umat Islam. Hal ini mendorong beberapa pihak dari umat Islam untuk mencari metode dan landasan syar’i agar umat Islam seluruh dunia melaksanakan hari raya secara serentak, sebagaimana umat agama lain.
 
Walaupun gagasan tersebut sangat ideal, tetapi pada realitasnya mengalami banyak kendala. Pertama,  bentuk bumi yang bulan menyebabkan perbedaan kemungkinan terlihatnya hilal antara yang satu dengan yang lain (www.crescentwatch.org). Kedua, perbedaan siang dan malam di berbagai daerah di belahan bumi yang menyebabkan perbedaan waktu di bumi. 
 
Ketiga, ada beberapa landasan normatif yang menjadi pertimbangan mengapa umat Islam di seluruh dunia tidak bisa bersatu. Di antara landasan normatif tersebut adalah sebagai berikut.  
 
Diriwayatkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali:
 
أَنَّ أَمِيرَ مَكَّةَ خَطَبَ ثُمَّ قَالَ عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا 
 
“Bahwasanya gubenur Makkah (al-Harits bin Hatib) berkhutbah seraya berkata, ‘Rasulullah SAW telah meminta janji kita untuk melakukan manasik karena melihat (hilal), jika kita tidak melihatnya dan dua orang saksi yang adil menyaksikan, maka kita bermanasik dengan kesaksian keduanya.  (HR Abu Dawud) 
 
عَنْ كُرَيْبٍ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ فَقُلْتُ أَوَ لَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لَا هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 
Dari Kuraib: Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Harits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata : Lalu aku datang ke Syam, kemudian aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku hilal (Ramadlan), sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ; “Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan) ? maka aku menjawab : “Kami melihatnya pada malam Jum’at”.Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?” maka aku menjawab : “Ya ! Dan orang-orang juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah juga berpuasa”.Ia berkata : “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami  terus berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihatnya (hilal Syawwal) “. Aku bertanya : “Apakah tidak cukup dengan ru’yah dan puasanya Mu’awiyah ? Jawabnya : “Tidak ! demikianlah Rasulullah SAW, memerintahkan kepada kami”. (HR. Muslim)
Dalam kitab al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan:
 
عَنْ أَبِي وَائِلٍ ، قَالَ : " أَتَانَا كِتَابُ عُمَرَ وَنَحْنُ بِخَانقِينَ ؛ أَنَّ الأَهِلَّةَ بَعْضُهَا أَكْبَرُ مِنْ بَعْضٍ ، فَإِذَا رَأَيْتُمَ الْهِلاَلَ نَهَارًا فَلاَ تُفْطِرُوا ، حَتَّى يَشْهَدَ رَجُلاَنِ مُسْلِمَانِ أَنَّهُمَا رَأَيَاهُ بِالأَمْسِ
 
Diriwayatkan dari Abu Wa’il yang berkata, “surat Umar datang kepada kami sedngkan kami berada di Khanaqin (suatu daerah di Irak), ‘bahwa hilal (pada suatu bulan) lebih besar dari hilal yang lain. Jika kalian melihat hilal di siang hari janganlah berhari raya sampai ada dua orang laki-laki muslim yang melihatnya di hari kemarin’.” 
 
Dari beberapa hadits tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kota Makkah, negeri Syam, dan kota Khanaqin, tidak mengikuti hasil rukyatul hilal kota Madinah, tetapi masing-masing daerah melakukan rukyatul hilal mandiri. Alasan rasionalnya adalah bahwa masing-masing daerah tersebut letaknya berjauhan dan visibilitas hilalnya beragam.  
 
 
Ahmad Musonnif, pengurus Lembaga Falakiyah PCNU Tulungagung. (Sumber  NUonline) 
Sunday, 27 May 2018 13:28

Perbedaan Dalam Penentuan Hari Raya

Written by
Tulungagung  ( radiomadufm.com) - - - Perbedaan dalam penentuan hari raya di kalangan umat Islam, oleh sebagian pihak dianggap sebagai kemunduran umat Islam. Hal ini mendorong beberapa pihak dari umat Islam untuk mencari metode dan landasan syar’i agar umat Islam seluruh dunia melaksanakan hari raya secara serentak, sebagaimana umat agama lain.
 
Walaupun gagasan tersebut sangat ideal, tetapi pada realitasnya mengalami banyak kendala. Pertama,  bentuk bumi yang bulan menyebabkan perbedaan kemungkinan terlihatnya hilal antara yang satu dengan yang lain (www.crescentwatch.org). Kedua, perbedaan siang dan malam di berbagai daerah di belahan bumi yang menyebabkan perbedaan waktu di bumi. 
 
Ketiga, ada beberapa landasan normatif yang menjadi pertimbangan mengapa umat Islam di seluruh dunia tidak bisa bersatu. Di antara landasan normatif tersebut adalah sebagai berikut.  
 
Diriwayatkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali:
 
أَنَّ أَمِيرَ مَكَّةَ خَطَبَ ثُمَّ قَالَ عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا 
 
“Bahwasanya gubenur Makkah (al-Harits bin Hatib) berkhutbah seraya berkata, ‘Rasulullah SAW telah meminta janji kita untuk melakukan manasik karena melihat (hilal), jika kita tidak melihatnya dan dua orang saksi yang adil menyaksikan, maka kita bermanasik dengan kesaksian keduanya.  (HR Abu Dawud) 
 
عَنْ كُرَيْبٍ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ فَقُلْتُ أَوَ لَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لَا هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 
Dari Kuraib: Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Harits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata : Lalu aku datang ke Syam, kemudian aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku hilal (Ramadlan), sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ; “Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan) ? maka aku menjawab : “Kami melihatnya pada malam Jum’at”.Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?” maka aku menjawab : “Ya ! Dan orang-orang juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah juga berpuasa”.Ia berkata : “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami  terus berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihatnya (hilal Syawwal) “. Aku bertanya : “Apakah tidak cukup dengan ru’yah dan puasanya Mu’awiyah ? Jawabnya : “Tidak ! demikianlah Rasulullah SAW, memerintahkan kepada kami”. (HR. Muslim)
Dalam kitab al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan:
 
عَنْ أَبِي وَائِلٍ ، قَالَ : " أَتَانَا كِتَابُ عُمَرَ وَنَحْنُ بِخَانقِينَ ؛ أَنَّ الأَهِلَّةَ بَعْضُهَا أَكْبَرُ مِنْ بَعْضٍ ، فَإِذَا رَأَيْتُمَ الْهِلاَلَ نَهَارًا فَلاَ تُفْطِرُوا ، حَتَّى يَشْهَدَ رَجُلاَنِ مُسْلِمَانِ أَنَّهُمَا رَأَيَاهُ بِالأَمْسِ
 
Diriwayatkan dari Abu Wa’il yang berkata, “surat Umar datang kepada kami sedngkan kami berada di Khanaqin (suatu daerah di Irak), ‘bahwa hilal (pada suatu bulan) lebih besar dari hilal yang lain. Jika kalian melihat hilal di siang hari janganlah berhari raya sampai ada dua orang laki-laki muslim yang melihatnya di hari kemarin’.” 
 
Dari beberapa hadits tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kota Makkah, negeri Syam, dan kota Khanaqin, tidak mengikuti hasil rukyatul hilal kota Madinah, tetapi masing-masing daerah melakukan rukyatul hilal mandiri. Alasan rasionalnya adalah bahwa masing-masing daerah tersebut letaknya berjauhan dan visibilitas hilalnya beragam.  
 
 
Ahmad Musonnif, pengurus Lembaga Falakiyah PCNU Tulungagung. (Sumber  NUonline) 

Kediri ( radiomadufm.com ) - Paska pemberitaan adanya siswi pemegang KIP yang terancam tidak dapat ikut ujian akhirnya sejumlah donatur mengalir ke keluarga LN, siswi kelas X SMA Negeri  di Kota Kediri dan dipastikan tetap bisa mengikuti ujian semester genap tahun 2018, meskipun orang tuanya kesulitan mendapatkan uang untuk melunasi tunggakan biaya sekolah. Kepastian ini disampaikan langsung oleh pihak sekolah. 

 

"Ujian tidak ada hubungannya dengan pembayaran, tapi sekolah tetap menyarankan agar anak lunas. Karena biaya tersebut dipakai untuk kegiatan sekolah," tulis Juwari, Waka Kesiswaan SMAN LN bernaung melalui pesan whatsappnya, Sabtu (5/5/18). 

 

Kendati memiliki tunggakan selama dua semester, imbuh Juwari, LN tetap mendapatkan kartu ujian. Artinya, sekolah memastikan bahwa, siswi berprestasi di bidang olahraga ini tetap bisa mengikuti ujian semester yang sedianya akan dilaksanakan, pada Senin (8/5/18) besok.

 

Namun, ada prosedur yang harus ditempuh oleh orang ruanya bila mana tetapi tidak sanggup melunasi. Yaitu, Yakub harus datang ke sekolah untuk membuat surat pernyataan yang isinya bahwa orang tua memiliki kesanggupan waktu membayar.

 

"Kalau tidak boleh ujian, anak tersebut semester satu mestinya tidak bisa ikut. Tapi dia tetap ujian meskipun nunggal di semester satu. Jadi, ujian tidak ada hubungannya dengan pembayaran," beber Juwari. 

 

Disinggung mengenai kepemilikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang menandakan pelajar miskin. Tetapi kenyataanya, LN tetap 'tidak bisa terbebas' dari biaya pendidikan? Juwari menjawab apabila KIP memiliki mekanisme sendiri. Bantuan KIP berasal dari pemerintah pusat, dan langsung diterima siswa melalui rekening pribadinya.

 

Sumbangan terus mengalir ke LN melalui orang tuanya. Tidak hanya dari kalangan DPRD dan masyarakat umum, bantuan juga datang dari para jurnalis di Kediri. 

 

Yakub mengaku, sangat berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantunya. Bekas pedagang nasi goreng di Surabaya, yang memutuskan berhenti bekerja karena sakit jantung ini mengaku, akan menyerahkan sumbangan dari pada dermawan untuk melunasi tunggakan biaya sekolah putrinya sebesar Rp 3.611.000.

 

"Terima kasih semuanya yang sudah peduli terhadap kami. Terima kasih atas sumbangannya," kata Yakub di rumahnya. Bahkan, imbuh warga Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri ini, ada beberapa pihak yang datang untuk melunasi seluruh tunggakan biaya sekolah LN. 

 

Diberitakan sebelumnya, LN, siswi kelas X SMAN di Kota Kediri terancam tidak bisa mengikuti ujian semester, lantaran mengalami kesulitan biaya sekolah. Dia memiliki tanggungan sebesar Rp 3.611.000. Tarikan tersebut terinci untuk beli seragam, buku, dan SPP selama dua semester. (em/ga) 

Kediri ( radiomadufm.com) - - Disinyalir gara-gara tidak sanggup membayar biaya sekolah, salah seorang siswi berprestasi di Kota Kediri, Jawa Timur terancam tidak bisa mengikuti ujian semester. Padahal, dia tergolong sebagai pelajar yang kurang mampu dan memegang Kartu Indonesia Pintar (KIP). 

 

Pelajar bernasib malang ini adalah LN, warga Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Dia tercatat sebagai salah satu siswi kelas 1 SMA Negeri 4 Kota Kediri. Kini siswi kelahiran 15 Mei 2002 itu harus pasrah menerima nasibnya, karena orang tuanya kesulitan mencari uang untuk melunasi tunggakan biaya sekolah.

Yakub, ayah LN mengaku, mendapatkan pemberitahuan dari sekolah untuk segera membayar tunggakan biaya tarikan sekolah selama dua semester sebesar Rp 3.611.000,00.

 

Apabila Yakub tidak sanggup, maka praktis LN tidak bisa ikut ujian semester genap. Sebab, sekolah telah mengultimatum bagi pelajar yang tidak sanggup menulasi tunggakan biaya tarikan, maka mereka tidak akan mendapatkan nomor ujian.

 

Artinya, mereka juga tidak bisa ikut ujian semester genap yang akan dimulai, pada Senin (8/5/2018) besok.

 

"Saya juga bingung, wong memang orang tidak punya apa-apa. Tagihannya sebesar Rp 3,6 juta. Kalau tidak bisa bayar, tidak bisa ikut ujian. Kemarin saja, raportnya (semester satu) juga belum dikasihkan," keluhnya.

 

Tanggungan ini berupa, biaya untuk pembelian seragam, SPP, buku dan juga uang bansos. Rinciannya, untuk semester satu Rp 2.391.000 dan semester dua Rp 1.220.000, sehingga totalnya Rp 3.611.000.

 

Sebenarnya, LN diberikan kesempatan melunasi seluruh biaya itu pada hari ini, Jumat (4/5/18). Tetapi kemudian ditoleransi hingga ujian berlangsung, pada Senin (8/5/18) besok.

 

Yakub, ayahnya sudah berusaha mencari pinjamanan kemana-mana, tetapi belum berhasil. Dia juga sudah datang ke sekolah untuk meminta keringanan biaya, mengingat, dirinya tergolong keluarga kurang mampu, namun tetap gagal. Sehingga, Yakub kini hanya bisa pasrah.

 

LN tercatat sebagai pelajar kurang mampu. Dia memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Bahkan, gadis ABG ini juga memegang surat keterangan sebagai pelajar miskin dari kantor kelurahan setempat. Namun, 'kartu sakti' yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo ini ternyata juga belum bisa membantunya.

 

"Saya sudah berusaha ke sekolah, meminta keringanan biaya, tetapi tidak diberi. Malahan saya dimarah-marahi. Dikatanya tidak memiliki etika untuk membayar," aku Yakub bersedih.

 

Sejak divonis menderita penyakit jantung, Yakub sudah tidak bisa bekerja lagi. Pria paroh baya ini berhenti sebagai pedagang nasi goreng di Kota Surabaya.

 

"Saya sudah tidak bisa bekerja. Dulu sebagai penjual nasi goreng, tetapi sudah berhenti karena sakit jantung. Saya tidak tahan dengan asapnya. Terasa sesak di dada," ungkap pria ompong ini.

 

Kehidupan ekonomi Yakub hanya mengandalkan satu orang anak laki-lakinya yaitu, LK. Dia bekerja sebagai tenaga honorer di salah satu dinas di Kota Kediri. Sementara istrinya memilih tinggal bersama anaknya di Surabaya untuk membantu momong cucunya.

 

Dari catatan keluarga, LN sebenarnya pelajar yang berpretasi. Dia tercatat sebagai seorang atlet lari perempuan dan juga drum band. Dari beberapa ajang perlombaan, LN kerap menyabet juara.

"Sebenarnya saya malu. Tetapi bagaimana lagi, karena sudah tidak ada apa-apa. Bahkan, anak saya yang kelas 5 SD juga harus bayar untuk biaya pentas seni saja, saya tidak bisa membayarnya," keluh Yakub bersedih.

Rumah warisan yang ditinggali Yakub dan anak-anaknya ini sebenarnya pernah  mendapatkan sentuhan rehab, pada 2014 lalu. Renovasi bagian atap rumah, kala itu memakai dana dari program PNPM Mandiri. Namun, baru berjalan 3-4 tahun terakhir ini, banyak kayunya yang sudah lapuk. 

 

"Kami sudah mengajukan bantuan dana renovasi melalui pemerintah kelurahan, tetapi sampai sekarang ini belum terealisasi. Kami khawatir apabila ada tamu datang, tiba-tiba atapnya runtuh dan mengenai. Kami sendiri sebenarnya menempati ini juga was-was, terlebih saat hujan turun," ucap LK, anak laki-laki Yakub. (em/ga) 

Saturday, 07 April 2018 03:29

Tim 9 Dibentuk, Strategi GP.Ansor Dalam Pengkaderan

Written by

Kediri ( radiomadufm.com )--- Strategi khusus dalam rangka pengkaderan di Kediri, Pengurus Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Kediri Ansor membentk Tim 9, kondisi ini menyusul dan melihat banyaknya permintaan Pelatihan Kader Dasar (PKD).

 

Apa itu Tim 9? Ketua PC GP Ansor Kabupaten Kediri, Munasir Huda menjelaskan, Tim 9 adalah pihak yang bertanggungjawab secara utuh atas seluruh program kaderisasi baik PKD Ansor maupun Diklatsar Banser. Mereka yang tergabung dalam tim 9 bertanggungjawab sejak penjadwalan PKD, narasumber, hingga rencana tindak lanjut (RTL) bagi peserta pasca pelatihan.

 

Mereka terdiri dari 9 orang kader senior yang dianggap mampu menjalankan roda kaderisasi. “Wilayah Kabupaten Kediri sangat luas, dengan 26 kecamatan dan 343 desa dan 1 kelurahan menjadi tantangan tersendiri bagi kami selaku Pengurus Cabang untuk dapat menggerakkan kader hingga tingkat ranting yang tersebar di seluruh desa dan kelurahan,” terang Munasir Huda, Sabtu (7/4/18).

 

Munasir menegaskan, terhitung 26 Pimpinan Anak Cabang (PAC) sesuai jumlah kecamatan di Kabupaten Kediri secara terus menerus melakukan agenda PKD. Pesertanya masing masing PAC yang merupakan utusan dari setiap ranting di kecamatan.

 

Pelatihan itu bertujuan memberikan pendidikan dan pelatihan dasar organisasi. Para peserta dibekali materi tentang ideologi Nahdlatul Ulama, wawasan kebangsaan, serta materi organisasi dan leadership.

 

"Kami sempat kewalahan dengan banyaknya permintaan PKD dari seluruh PAC. Ia kemudian berdiskusi dengan seluruh pengurus cabang untuk menyusun strategi pengkaderan. Dari berbagai ruang diskusi yang dilakukan di beberapa lokasi, dari masjid, rumah, hingga warung kopi, akhirnya muncul gagasan untuk membentuk tim 9 itu," jlentreh Gus Munasir.(em/ga) 

Tuesday, 13 March 2018 01:05

ABG Tewas Gantung Diri Dipohon Nangka

Written by

Kediri ( radiomadufm.com) - - - Warga Wonorejo Wates Kanupaten Kediri digemparkan dengan kabar seorang pelajar SMP di Kabupaten Kediri mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Tidakan nekat ini dilakukan oleh AP (16) siswi kelas 3 SMP, asal Desa Wonorejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri yang diduga akibat Ponsel miliknya dijual oleh orang tuanya. 

 

 

 

Menurut informasi dari Polsek Wates, awalnya Senin (12/3/18) pukul 17.00 WIB, Sugiono (45) paman korban hendak mencari makan ternak kambing di belakang rumahnya di Dusun Wonorejo.dan ketika akan mengambil daun ketela, ia melihat sesosok perempuan tergantung di pohon nangka.

 

 

 

Karena penasaran, pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini kemudian mendekati sosok di pohon nangka itu. Alangkah terkejutnya Sugiono, sosok tersebut adalah keponakannya sendiri AP. Gadis ABG ini sudah dalam keadaan meninggal dunia dengan leher terikat seutas tali tampar warna biru.

 

 

 

Korban dalam posisi memanjat sebuah tangga berukuran tinggi sekitar 3 meter. Korban mengenakan baju warna putih dan celana jeas panjang serta tas rangsel kecil masih rapi dipundak korban. Sugiono lantas bergegas memberitahu SM (43), ibunya dan juga kakek korban Nakiman (88). Selanjutnya, mereka menuju ke pekarangan belakang rumah.

 

 

 

Melihat keponakannya sudah dalam keadaan meninggal dunia, Sugiono lalu memberitahu Kepala Dusun Wonorejo. Sehingga kabar tersebut akhirnya dilaporkan ke Polsek Wates. Anggota polisi yang datang ke lokasi, kemudian melakukan olah TKP. Petugas menurunkan jenazah korban dan dilakukan visum.

 

 

 

Petugas mengamankan barang bukti sebuah tas punggung warna coklat yang berisikan jilbab warna coklat, parfum, lipstik, cream bedak, dua buah pulpen. Kemudian, sebuah baju warna putih dan celana jean panjang, bra warna ungu dan krudung warna putih serta tangga bambu panjang kurang lebih 3 meter.

 

 

 

Kasi Humas Polsek Wates Bripka Agung Sulistyo mengatakan, dari keterangan tim medis Puskesmas Wates, berdasarkan hasil pemeriksaan jenazah tidak ditemukan luka akibat penganiayaan. Korban meningal dunia akibat gantung diri yang didukung dengan adanya jeratan di leher, lidah menjulur. “Korban meninggal dunia, murni gantung diri,” kata Agung, Selasa (13/3/18).

 

 

 

Informasi yang didapat kepolisian dari keterangan SM, ibunya. Sekitar satu bulan lalu, korban dimarahi ibunya karena sering bermain HP. Selanjutnya, sang ibu menjual HP korban. Sekitar dua minggu terakhir, korban menjual sepeda motornya dan sebagian uang dari hasil jual sepeda motor dibelikan dua HP. Setelah kejadian itu, korban mendiamkan ibunya.

 

Sementara itu, pihak keluarga telah menerima kematian korban sebagai musibah. Sehingga, pihak keluarga tidak bersedia korban dilakukan otopsi dan keluarga korban bersedia membuat surat pernyataan. (em/ga) 

 

Sunday, 11 February 2018 10:31

Wujudkan Etika Dan Budaya Di Kampung Layak Anak

Written by

Kediri ( radiomadufm.com) - - - Terwujudnya kampung layak anak merupakan komitmen bersama antara pemerintah daerah dengan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga tumbuh kembang anak. 

 

Setelah diresmikan di beberapa Kelurahan di Kota Kediri, kali ini giliran Kelurahan Mojoroto yang mengukuhkan kelurahannya sebagai Kampung Layak Anak, Minggu (11/2/18) pagi. 

 

Acara yang bertempat di pendopo RW 9 Kelurahan Mojoroto tersebut berlangsung meriah. Masyarakat dari berbagai kelompok usia berbaur menjadi satu sebagai bentuk dukungan terhadap terbentuknya Kampung Layak anak di kelurahannya.

 

Mas Abu yang hadir secara langsung untuk melaunching Kampung Layak Anak di Kelurahan Mojoroto, disambut dengan atraksi jaranan godong yang dimainkan oleh anak-anak. Atraksi yang dimainkan begitu unik dan kreatif karena menggunakan daun pisang sebagai propertinya.

 

Mas Abu, sapaan akrab Walikota Kediri dihadapan masyarakat yang hadir di pendopo mengatakan, Kelurahan Mojoroto memiliki jumlah penduduk yang cukup banyak sehingga merupakan langkah yang tepat jika Kelurahan Mojoroto membentuk Kampung Layak Anak. "Ini adalah kegiatan yang sangat positif. Mencanangkan kampung yang ramah anak di Kelurahan Mojoroto, karena di wilayah Mojoroto itu penduduknya  sangat luar biasa banyaknya ada 16 ribu, sedangkan jumlah anaknya ada 9 ribu. Saya rasa pembentukan Kampung Ramah Anak ini dampaknya akan jauh lebih baik, karena anak-anak tidak hanya butuh buku atau sepatu tetapi mereka juga butuh cinta," ujarnya.

 

Mas Abu juga menambahkan saat ini lahan pekarangan di Kota Kediri semakin sempit sehingga dengan adanya taman di Kota Kediri diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai area bermain anak. "Bapak/ibu jangan heran kalau di gang-gang kecil anak-anak bemain bola, karena tempat mereka untuk bermain sangat berkurang. Sehingga Pemerintah Kota Kediri membangun taman-taman. Seperti taman sekartaji yang ada di wilayah mojoroto, Taman Makam Pahlawan dan sebentar lagi juga ada taman di bawah jembatan yang saya harapkan dapat menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan anak-anak kita dan kita semua," ungkapnya.

 

Dengan adanya kampung ramah anak, tidak lupa Mas Abu juga menghimbau agar semua elemen masyarakat ikut berpikir supaya anak-anak yang ada di kota kediri bisa belajar dengan aman, nyaman dan dapat tumbuh kembang sesuai usianya.  

 

Untuk para orang tua, mas Abu menyampaikan pesan agar selalu mendampingi anak-anaknya di rumah dan membekali mereka dengan ilmu agama. "Bapak/Ibu harus mendampingi anak-anak di rumah, masukkan anak-anak ke madrasah, Anak-anak juga harus diajarkan etika, sopan santun dan adat-adat kita.

Anak-anak di kota Kediri adalah anak-anak kita semua. Mari kita jaga bersama, buat anak-anak nyaman, aman dan tenang di kampungnya masing-masing agar mereka menjadi generasi yang cerdas dan berakhlak," pungkasnya. 

 

Launching Kampung Layak Anak di Kelurahan Mojoroto ditandai dengan pemukulan gong dan penandatangan prasasti.

 

Hadir dalam acara tersebut Walikota Kediri, Kepala BPPKA Kota Kediri, Camat Mojoroto, Lurah Mojoroto, Lurah Ngampel, Ketua LPA, Karang taruna, Ketua RT dan RW Kelurahan Mojoroto.(sj/ga) 

Kediri ( radiomadufm.com)  - - - Peran tempat ibadah saat ini bukan hanya sebagai sarana ibadah saja, namun juga sebagai sarana untuk revolusi mental. Hal ini disampaikan oleh Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar saat meresmikan mushola Nurul Iman di lingkungan SMPN 6 Kota Kediri, Selasa (6/2) pagi. Peresmian mushola tersebut ditandai dengan penandatanganan batu prasasti dan pemotongan rangkaian bunga melati yang dilakukan oleh Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar. 

 

Mas Abu menginginkan agar pembinaan mental dan spiritual generasi muda senantiasa dilakukan dimanapun mereka berada. Baik di lingkungan keluarga, sekolah ataupun tempat ibadah sebagai salah satu sarana tempat belajar bagi generasi muda.

 

 

“Dengan adanya mushola yang sudah dibangun ini, saya betul-betul titip kepada bapak/ibu guru, tolong murid-murid yang agamanya islam diajarkan untuk sholat dhuha. Karena bapak presiden menganjurkan untuk revolusi mental, dan revolusi mental yang terbaik adalah di dalam masjid atau mushola. Adakan kajian-kajian supaya murid-murid itu tahu, karena sekarang dampak dari globalisasi sangat luar biasa. Kita bisa mengantisipasi itu dengan kearifan lokal dan agama,” terangnya.

 

Mas Abu menjelaskan, arah pembangunan Kota Kediri adalah sumber daya manusia. Untuk itu, Pemerintah Kota Kediri berkomitmen menaikkan indeks pembangunan manusia. Menurutnya, sekolah bukan hanya milik pemerintah daerah saja, melainkan milik bersama. Untuk itu diperlukan adanya partisipasi dari semua pihak demi kemajuan dan kelancaran proses belajar mengajar.

 

 

“Terimakasih atas segala partisipasi untuk sekolahan ini. “Sekolah ini adalah milik kita semua. Mari kita lebih perhatian dengan keberadaan sekolah ini. Mari buat sekolahan ini menjadi lebih maju lagi, lebih produktif lagi. Saya titip juga kepada bapak/Ibu guru, adik-adik ini adalah kids jaman now yang beda jauh dengan jaman kita dulu. Mereka harus bisa komunikasi dua arah. Ajarkan mereka komunikasi dengan guru yang baik. Saling menghormati, bisa menjadi teman, bisa menjadi guru, bisa menjadi orang tua di dalam sekolahan ini,” ujarnya.

 

Dihadapan Wali murid, Mas Abu menyampaikan pesannya agar mengawasi dan mendidik putra-putrinya

agar menjadi generasi yang tangguh dan memiliki kesalehan sosial di tengah tantangan dan arus globalisasi saat ini.

 

“Untuk bapak/ibu wali murid, tolong putra-putrinya di rumah diperhatikan baik-baik sehingga ke depan putra-putri panjenengan menjadi anak yang sholeh, daya saingnya bagus, agamanya juga bagus. Jadi tidak hanya pelajaran, tapi agamanya juga harus sempurna menjadi anak yang sholeh dan sholihah. Kita juga harus didik anak-anak kita memiliki mental baja supaya daya saing mereka meningkat, sehingga ke depan mereka  bisa bersaing dengan orang lain yang ada di seluruh dunia karena persaingan sekarang global. Kalau ada sumbangsih saran, silahkan berbicara dengan bapak/ibu guru atau kepala sekolah sehingga tidak ada gap/jarak sedikitpun semua masukan bisa berjalan dengan baik,” harapnya.

 

Untuk diketahui, Mushola Nurul Iman di lingkungan SMPN 6 Kota Kediri yang sebelumnya seluas 9m2 dan hanya berlantai satu, setelah dilakukan renovasi selama kurang lebih tiga tahun, kini luasnya menjadi 14m2 dan memiliki dua lantai. Sumber anggarannya berasal dari infak siswa, guru, wali murid dan bantuan APBD dari Pemerintah Kota Kediri.(sj/ga) 

Page 1 of 2

Live Madu TV

Live Radio Madu FM



Get connected with Us