SIRAMAN TOMBAK KYAI UPAS DIPADATI PENGUNJUNG

Kabupaten Tulungagung memiliki pusaka andalan yang cukup terkenal Tombak Kyai Upas namanya. Pusaka Tombak Kyai Upas sejak ada dan hingga kini masih saja dilestarikan keberadaannya dan setiap tahun tepatnya 1 Shuro dimandikan atau dijamasi di rumah Kanjengan Kelurahan Kepatihan Kecamatan Tulungagung.

Pada Tahun 2008 ini jamasan dilaksanakan 25 Januari 2008, yang disaksikan Bupati Tulungagung, Wakil Bupati Tulungagung, Muspida, Anggota DPR serta para Kepala Dinas/Badan/Kantor/Bagian lingkup Pemkab. Tulungagung dan tokoh masyarakat serta dipadati oleh warga setempat.

Sebelum acara jamasan Pusaka Kyai Upas berlangsung, terlebih dahulu diadakan acara Kirab Srono Mulyo, yakni sesaji atau segala keperluan untuk memandikan pusaka lebih dahulu di kirab keliling kota Tulungagung. Acara kirab Srono Mulyo, yang dimulai dari Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso Tulungagung, sekitar pukul 07.30 WIB. dilepas oleh Bupati Ir. Heru Tjahjono MM
Kirab Srono Mulyo berlangsung cukup meriah karena selain peserta kirab membawa sesaji untuk jamasan Pusaka, ada juga peserta dari Perangkat Desa/Kelurahan se Tulungagung yang mengenakan pakaian adat jawa, serta iring-iringan wanita cantik.yang berpakaian adat jawa.
Bukan hanya itu saja tidak ketinggalan dimeriahkan dengan kesenian Reog Gendhang Tulungagung yang berjumlah 13 paguyuban dan kesenian tradisional Jaranan berjumlah 3 paguyuban. Kesenian tradisional ini dapat menambah suasana kirab bertambah semarak. Tidak ketinggalan turut kirap 2 grup drumband yang berasalkan dari SMP Negeri 1 Tulungagung dan SMP Katolik Santa Maria Tulungagung.


Disepanjang jalan yang dilalui iring-iringan Kirab Srono Mulyo yang menempuh jarak sekitar 3 km, dipadati oleh penonton.
Setelah sampai di Pendopo Kanjengan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Kamiran, antara lain menjelaskan asal-usul Pusaka Tombak Kyai Upas menurut keluarga Pringgo Koesoemo. Dikisahkan, salah seorang keluarga raja bernama Wonoboyo melarikan diri ke Jawa Tengah yang babat hutan di sekitar wilayah Mataram dekat Rawa Pening Ambarawa. Dia memiliki anak Mangir, namanya. Setelah Wonoboyo dapat membabat hutan, maka ia bergelar Ki Wonoboyo dan dukuh tersebut dinamakan dukuh Mangir sesuai dengan nama puteranya.
Kemudian dipinjaminya pisau yang berupa pusaka dengan pantangan jangan sekali-kali ditaruhkan di pangkuan. Tapi sang pemudi lupa. Pada waktu itu beristirahat, pisau itu dipangkunya dan seketika musnahlah pusaka tadi. Dengan hilangnya pisau tersebut pemudi menjadi hamil padahal ia belum menikah. Ketika telah datang saatnya melahirkan maka bukannya melahirkan bayi, tetapi berupa ular naga yang diberi nama Baru Klinting. Baru klinting menyusul ayahnya di Gunung merapi dan disuruh melingkari gunung itu, tetapi ketika kurang sedikit ia menjulurkan lidah untuk menyambung antara kepala dan ekor. Kiwonoboyo mengetahui ini langsung saja memotong lidah baru klinting. Lidah berubah menjadi ujung tombak, kemudian baru klinting melarikan diri ke selatan mengetahui Wonoboyo megejarnya, ia menceburkan diri ke laut. Ketika wonoboyo meninggal tombak itu diberikan kepada puteranya secara turun-temurun dan pada saat ini milik keluarga Pringgo Koesoema yang bertempat di Kanjengan.


Bupati Tulungagung menjelaskan, bahwa semoga keluarga kanjengan tetap sehat dan sejahtera. Siraman tombak Kyai Upas merupakan adat kebesaran Kabupaten Tulungagung. Ini merupakan tradisi budaya yang harus dilestrarikan. “Dirasa pusaka ini mampu memperkokoh Kabupaten Tulungagung”jelas Bupati.
Sementara itu RM Endronoto, selaku keluarga besar Pringgo Koesoemo, mengucapkan terima kasih utamanya kepada Bupati yang telah banyak membantu rumah Kanjengan maupun membantu jalannya Siraman Tombak. Juga ucapan terima kasih terhadap berbagai pihak yang ikut membantu demi lancarnya upacara ini.
Dirumah Kanjengan, semua ubo rampe diterima oleh Bupati Tulungagung dan selanjutnya Bupati dan Wakil Bupati, Muspida dan Anggota DPR berada di bilik atau gandhok belakang tempat Tombak Kyai Upas disemayamkan. Tombak Kyai Upas oleh Bupati dan Wakil Bupati serta keturunan Pringgo Koesoemo Pusaka itu diusung keluar menuju belakang.
Selanjutnya Tutup Pusaka Kyai Upas dilepas oleh ki Emban Sunarto dan diberikan berurutan kepada Bupati Tulungagung, Wakil Bupati Tulungagung, Ketua DPR dan Muspida. Dengan telatennya penjamas Sunarto, dengan diiringi asap kemenyan yang menyebar baunya melaksanakan tugasnya. Sedangkan sesaji untuk menjamasi diantaranya terdiri, air panguripan (air dari Goa Tritis di gunung Budeg), air bilik tengah, air bilik buntut, air gothekan, air kelapa, air sumur, air deresan randu dan pisang. Sesaji lainnya berupa 7 ayam jantan antara lain, ayam emas kemambang, ayam rajekwesi, ayam cemani, ayam putih mulus, ayam walik, ayam tulak dan ayam biasa.
Ketika acara jamasan Kyai Upas berlangsung tempat itu dipadati pengunjung yang ingin melihat langsung upacara Siraman Tombak Kyai Upas tersebut. Untuk mengamankan tempat itu, tidak ketinggalan pihak keamanan yang berasalkan dari anggota Polres Tulungagung dan anggota Kodim 0807 Tulungagung serta dibantu pemuda Kanjengan berdiri paling depan mengitari tempat itu. Dengan demikian hingga jamasan pusaka berakhir tempat itu terjaga keamanannya.

sumber www.tulungagung.go.id

Read 15282 times
Rate this item
(0 votes)
Published in Berita Daerah
Tagged under

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Live Madu TV

Live Radio Madu FM


Get connected with Us