PENGAKUAN 3 ANGGOTA AL QIYADAH

KEDIRI- Tiga pengikut Al Qiyadah Al Islamiyah, kemarin, kembali menegaskan pertobatannya. Hal itu disampaikan dalam sidang lanjutan kasus penodaan agama di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri. Mereka adalah Galief Eko, 22, Rendra Wahyu, 30, dan Bahrul Ulum, 25.

Ketiganya mengucapkan kalimat syahadat sesuai ajaran Islam secara bergilir, sesuai yang dituntun Ketua Majelis Hakim Sutio Jumagi. Di dalamnya tidak ada lagi yang menyebut Al Masih Al Maw’uud (pemimpin mereka) sebagai rasul. "Tidak harus di masjid. Yang penting, saudara ikhlas mengucap syahadat dan benar-benar tobat nasuha," tutur hakim yang akrab disapa Tio ini.


Untuk diketahui, sebelumnya, mereka juga sempat melakukan pertobatan. Hanya saja, waktunya ’terlambat’. Yakni, ketika kasusnya sudah telanjur dilimpahkan polisi ke kejaksaan. Dan, penahanannya sudah dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kediri. Makanya, kasusnya pun tetap berlanjut ke pengadilan.

Persidangan kemarin digelar sekitar pukul 14.20. Agendanya adalah pemeriksaan terdakwa. Kepada majelis, mereka mengaku hanya ikut-ikutan. Para pemuda itu tertarik setelah mengikuti pengajian di rumah Khodiron alias Kodiran, pimpinan Al Qiyadah Al Islamiah, di Pare. Mereka lantas menularkannya kepada teman masing-masing.

Bahrul kepada Suroso sedangkan Rendra kepada Heru, Darto, dan Karto. Adapun Galief kepada istri dan kakak iparnya. "Tapi akhirnya saya menyadari ajaran ini banyak kekeliruan. Saya ingin kembali. Sejak bertobat, saya sudah tak ikut lagi," aku Galief.

Saat jaksa penuntut umum (JPU) Ichwan menanyakan soal adanya ikrar ajaran yang harus ditaati, para terdakwa membenarkannya. Di antara yang harus dijalankan adalah tidak berbohong, tidak mencuri, tidak berzina, serta tidak boleh menggugurkan kandungan.

Menanggapi keterangan yang disampaikan kliennya, Arif Mulyono, pengacara para terdakwa, mengatakan, sebenarnya mereka tidak pernah menjalankan syariat versi Al Qiyadah. Meski ikut pengajian yang diadakan Khodiron, mereka tetap menjalankan syariat Islam pada umumnya. "Buktinya, mereka masih salat dan puasa," ungkap Arif.

Makanya, dia menilai, kilennya hanya ikut-ikutan. Keikutsertaan mereka juga dipengaruhi faktor kemiskinan. "Seperti Galif dan Rendra itu kan bekerja membuat paving kepada Djani, rekan Khodiron, yang pertama mengajarkan aliran ini. Lantaran itu, mereka ikut juragannya," jelas Arif.

Apalagi, para terdakwa juga masih awam soal agama. Karena itu, Arif menyatakan kliennya tidak bisa disebut ikut menyebarkan ajaran ini. "Yang mereka beritahu terbatas teman dan keluarganya. Mereka juga tidak memahami bacaan ajaran itu," tandasnya. Usai memeriksa ketiga terdakwa, persidangan ditunda hingga minggu depan. Agenda berikutnya adalah pembacaan tuntutan dari jaksa.

Read 922 times
Rate this item
(0 votes)
Published in Berita Utama
Tagged under

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Live Madu TV

Live Radio Madu FM


Get connected with Us