Breaking News
Telapak Kaki "Nyembul" Di Atas Makam - Wednesday, 16 May 2018 15:12
Walikota Serahkan Kunci Di Program Bedah Rumah - Saturday, 10 February 2018 07:20
IMB Bagi Masjid Di Kota Kediri - Friday, 09 February 2018 08:01
Transaksi Non Tunai Bagi Guru Madin TPA - Friday, 09 February 2018 08:01
ProDaMas 2018 Mulai Terealisasi - Wednesday, 07 February 2018 11:11
Dua Santri Hanyut Diterjang Air Bah - Tuesday, 06 February 2018 02:06
Polisi Tangkap Pembuang Bayi - Monday, 05 February 2018 11:05
Hari Kanker Sedunia Di CFD Jalan Dhoho - Sunday, 04 February 2018 06:13
Puluhan Warga Terpaksa Menutup Operasional MJB - Saturday, 03 February 2018 10:11
Puluhan Massa "Cari" Kepala Kantor BPMPD - Friday, 02 February 2018 23:45
ProDaMas 2018 Segera Direalisasikan - Friday, 02 February 2018 12:12

Super User

Super User

Saturday, 05 May 2018 03:57

Kediri ( radiomadufm.com)  ---Peredaran Narkoba akhirn-akhir ini tidak hanya menjadi trend gaya hidup maupun ikut ikutan bagi oknum pemakai dan penjualnya saja,  namun saat ini merambah karena desakan kebutuhan untuk pemenuhan ekonomi rumah tangga seperti membeli susu anaknya. Dan itu dilakukan Hendra Solidarmanto (29) warga Kelurahan Burengan RT 3 / RW 13 Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Dia diringkus polisi dari rumahnya.

 

Dalam penangkapan tersebut, anggota Unit Reskrim Polsek Mojoroto mengamankan barang bukti uang tunai Rp 37 ribu dari hasil bisnis sabu dan pembalut dan susu anaknya.

 

Kapolsek Mojoroto Kompol Didit Prihantoro mengatakan, penangkapan Hendra Solidarmanto bermula dari pengembangan kasus peredaran sabu dengan tersangka Berdi Amarga Putra (30) konsumennya. 

 

Pria asal Perum Tugurejo Indah Blok G 7 Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri itu sebelumnya mengedarkan sabu dengan janjian di Alfamart Jalan Raung, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

 

"Dalam penggeledahan terhadap Berdi kami temukan barang bukti sabu seberat 0,03 gram dari dompetnya dan sebuah Handphone. Lalu kami kembangkan kepada tersangka Hendra yang kami amankan dari rumahnya," Ungkap Mantan Kasat Reskrim Polres Kediri ini dalam pers rilis.

 

Akibat perbuatannya, kedua tersangka kini harus meringkuk di dalam sel tahanan Polsek Mojoroto. Tersangka Berdi dijerat Pasal 112  UURI No 35 tahun 2009 tentang tentang Narkotika. Sedangkan Hendra Solidarwanto disangkakan melanggaP pasal 114 UURI No 35 tshun 2009  tentang Narkotika. (em/ga) 

Friday, 04 May 2018 16:02

Kediri ( radiomadufm.com) - - Disinyalir gara-gara tidak sanggup membayar biaya sekolah, salah seorang siswi berprestasi di Kota Kediri, Jawa Timur terancam tidak bisa mengikuti ujian semester. Padahal, dia tergolong sebagai pelajar yang kurang mampu dan memegang Kartu Indonesia Pintar (KIP). 

 

Pelajar bernasib malang ini adalah LN, warga Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Dia tercatat sebagai salah satu siswi kelas 1 SMA Negeri 4 Kota Kediri. Kini siswi kelahiran 15 Mei 2002 itu harus pasrah menerima nasibnya, karena orang tuanya kesulitan mencari uang untuk melunasi tunggakan biaya sekolah.

Yakub, ayah LN mengaku, mendapatkan pemberitahuan dari sekolah untuk segera membayar tunggakan biaya tarikan sekolah selama dua semester sebesar Rp 3.611.000,00.

 

Apabila Yakub tidak sanggup, maka praktis LN tidak bisa ikut ujian semester genap. Sebab, sekolah telah mengultimatum bagi pelajar yang tidak sanggup menulasi tunggakan biaya tarikan, maka mereka tidak akan mendapatkan nomor ujian.

 

Artinya, mereka juga tidak bisa ikut ujian semester genap yang akan dimulai, pada Senin (8/5/2018) besok.

 

"Saya juga bingung, wong memang orang tidak punya apa-apa. Tagihannya sebesar Rp 3,6 juta. Kalau tidak bisa bayar, tidak bisa ikut ujian. Kemarin saja, raportnya (semester satu) juga belum dikasihkan," keluhnya.

 

Tanggungan ini berupa, biaya untuk pembelian seragam, SPP, buku dan juga uang bansos. Rinciannya, untuk semester satu Rp 2.391.000 dan semester dua Rp 1.220.000, sehingga totalnya Rp 3.611.000.

 

Sebenarnya, LN diberikan kesempatan melunasi seluruh biaya itu pada hari ini, Jumat (4/5/18). Tetapi kemudian ditoleransi hingga ujian berlangsung, pada Senin (8/5/18) besok.

 

Yakub, ayahnya sudah berusaha mencari pinjamanan kemana-mana, tetapi belum berhasil. Dia juga sudah datang ke sekolah untuk meminta keringanan biaya, mengingat, dirinya tergolong keluarga kurang mampu, namun tetap gagal. Sehingga, Yakub kini hanya bisa pasrah.

 

LN tercatat sebagai pelajar kurang mampu. Dia memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Bahkan, gadis ABG ini juga memegang surat keterangan sebagai pelajar miskin dari kantor kelurahan setempat. Namun, 'kartu sakti' yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo ini ternyata juga belum bisa membantunya.

 

"Saya sudah berusaha ke sekolah, meminta keringanan biaya, tetapi tidak diberi. Malahan saya dimarah-marahi. Dikatanya tidak memiliki etika untuk membayar," aku Yakub bersedih.

 

Sejak divonis menderita penyakit jantung, Yakub sudah tidak bisa bekerja lagi. Pria paroh baya ini berhenti sebagai pedagang nasi goreng di Kota Surabaya.

 

"Saya sudah tidak bisa bekerja. Dulu sebagai penjual nasi goreng, tetapi sudah berhenti karena sakit jantung. Saya tidak tahan dengan asapnya. Terasa sesak di dada," ungkap pria ompong ini.

 

Kehidupan ekonomi Yakub hanya mengandalkan satu orang anak laki-lakinya yaitu, LK. Dia bekerja sebagai tenaga honorer di salah satu dinas di Kota Kediri. Sementara istrinya memilih tinggal bersama anaknya di Surabaya untuk membantu momong cucunya.

 

Dari catatan keluarga, LN sebenarnya pelajar yang berpretasi. Dia tercatat sebagai seorang atlet lari perempuan dan juga drum band. Dari beberapa ajang perlombaan, LN kerap menyabet juara.

"Sebenarnya saya malu. Tetapi bagaimana lagi, karena sudah tidak ada apa-apa. Bahkan, anak saya yang kelas 5 SD juga harus bayar untuk biaya pentas seni saja, saya tidak bisa membayarnya," keluh Yakub bersedih.

Rumah warisan yang ditinggali Yakub dan anak-anaknya ini sebenarnya pernah  mendapatkan sentuhan rehab, pada 2014 lalu. Renovasi bagian atap rumah, kala itu memakai dana dari program PNPM Mandiri. Namun, baru berjalan 3-4 tahun terakhir ini, banyak kayunya yang sudah lapuk. 

 

"Kami sudah mengajukan bantuan dana renovasi melalui pemerintah kelurahan, tetapi sampai sekarang ini belum terealisasi. Kami khawatir apabila ada tamu datang, tiba-tiba atapnya runtuh dan mengenai. Kami sendiri sebenarnya menempati ini juga was-was, terlebih saat hujan turun," ucap LK, anak laki-laki Yakub. (em/ga) 

Friday, 27 April 2018 03:18

Trenggalek ( radiomadufm.com) - - Gas Elpiji 3kg mulai mengalami "kelangkaan"  Tiga minggu menjelang bulan suci ramadhan. Kondisi itu dialami masyarakat di seputaran Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.  Gas elpiji tabung melon alami kelangkaan, sejak dua minggu terakhir.

 

Musrinah, salah seorang warga Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo mengaku, sulit mendapatkan elpiji melon untuk kebutuhan sehari-hari. Beberapa kios pengecer yang ia datangi, tidak memiliki stok elpiji. 

 

"Akhir-akhir ini sudah mendapatkan elpiji. Banyak kios kehabisan stok," keluhnya, Jumat (27/4/18). Kesulitan memperoleh elpiji melon ini dirasakan oleh hampir seluruh warga di Desa Tasikmadu, bahkan desa-desa lain di wilayah Kecamatan Watulimo. 

 

Warga berusaha mencari elpiji melon dengan mendatangi setiap kios yang menjual. Ada kios-kios tertentu yang masih memiliki stok, tetapi jumlahnya sangat terbatas. Salah satunya kios milik Mbok Kem, di Dusun Kebon, Desa Tasikmadu. 

 

Tetapi di kios ini, elpiji melon dijual dengan harga yang cukup tinggi yaitu, Rp 20 ribu per tabung. Penjual beralasan, pasokan dari pangkalan minim, sementara konsumen yang datang sangat banyak. 

 

"Itu tadi cuma dapat delapan tabung saja. Carinya sangat sulit. Kalau mau silahkan harganya Rp 20 ribu," kata Mbok Kem saat didatangi pembeli yang ingin menukar tabung kosongnya dengan tabung isi. 

 

Diakuinya, pasokan elpiji dari pangkalan tersendat. Selain itu, jumlahnya berkurang. Bagi kios-kios pengecer, mengaku, tidak memanfaatkan momentum ini untuk menaikkan harga, tetapi mengikuti kios lain dalam melepas elpiji melon kepada masyarakat. 

 

Pangkalan Elpiji Muyani di Desa Tasikmadu mengakui, adanya kebijakan pengurangan pasokan dari depo belakangan. Hal tersebut menjadi penyebab kelangkaan elpiji melon di masyarakat. 

 

Seperti di Pangkalan Muyani ini, dari jatah sebanyak 1.800 tabung dikurangi hingga 300 tabu. Sehingga pasokan yang diterima kini hanya 1.500 tabung. Jumlah ini tidak mencukupi kebutuhan masyarakat, karena pangkalan lain yang mengalami hal yang sama.

 

"Memang ada pengurangan pasokan. Itu merata di setiap pangkalan. Seperi saya dan pangkalan lain. Bisa dilihat saat ini kosong tidak ada stok sama sekali. Masyarakat banyak yang membutuhkan," beber Muyani ditemui di pangkalannya.

 

Kelangkaan elpiji melon yang mengakibatkan kenaikan harga hingga Rp 20 ribu ini cukup memberatkan masyarakat. Mengingat, Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji subsidi pemerintah ini berkisar antara Rp 16-17 ribu per tabung. 

 

Masyarakat di seputaran Pantai Prigi mendengar kabar apabila kelangkaan elpiji melon ini disebabkan oleh rencana konversi elpiji melon ke tabung warna pink. Mereka berharap kebijakan tersebut tidak berdampak buruk terhadap mereka. Masyarakat juga meminta pemerintah kembali memperlancar pasokan elpiji melon sehingga harganya kembali normal. (em/ga) 

Thursday, 26 April 2018 06:13

Kediri ( radiomadufm.com) - - -Diantar tukang becak, seorang pria paruh baya meninggal mendadak.  Dan  Satuan Reserse Kriminal Polresta Kediri menyelidiki kematian mendadak pengunjung Hotel Crown di Jalan Mayor Bismo, Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota Kediri, Rabu (25/4/18) pagi kemarin. Korban menghembuskan nafas terakhirnya setelah bertemu dengan seorang perempuan kenalannya.

 

 

"Kami memintai keterangan dari para saksi diantaranya, teman perempuan korban, respsionis dan keluarganya, untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban," kata Kasubbag Humas Polresta Kediri, AKP Kamsudi, Kamis (26/4/18).

 

 

Data yang dihimpun menyebutkan, korban berinisial MJ (52) asal Dusun Dlopo, Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri janjian bertemu dengan perempuan kenalannya UM (49) di Simpang Empat Jongbiru, Kecamatan Gamprengrejo, Kabupaten Kediri, Rabu (25/4/18) sekitar pukul 07.30 WIB.

 

 

Setelah menjemput UM, asal Karangrejo Selatan RT 03/07 Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, kemudian mereka berdua menuju ke Hotel Crown. 

 

 

Sekitar 1,5 jam kemudian keduanya masuk ke hotel. Mereka kemudian chek in menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik UM. 

 

 

Selanjutnya, mereka diantar oleh petugas hotel ke kamar yang dipesan. Sekitar 30 menit di dalam kamar, korban kemudian duduk di tempat tidur. 

 

 

Dia mengeluh dadanya sesak dan nafasnya tersengal-sengal kepada teman wanitanya. Merasa kebingungan UM kemudian memanggil resepsionis Hotel Crown Murniati. 

 

 

Resepsionis hotel lantas memanggil seorang tukang becak untuk membawa korban ke RS DKT Kota Kediri. 

 

 

Sesampainya di RS DKT, sekitar pukul 09.30 WIB tim medis memeriksa kondisi korban. Ternyata korban sudah meninggal dunia.

 

 

UM lalu menghubungi isteri korban dan melaporkan kejadian ini ke Polsek Kediri Kota. Akhirnya polisi datang ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi korban serta melakukan olah TKP di Hotel Crown.

 

 

 

Berdasarkan hasil pemeriksaan tim identifikasi Polresta Kediri, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan atau kekerasan pada tubuh korban. Diduga korban meninggal dunia akibat serangan penyakit jantung.

 

 

Hal tersebut diperkuat oleh keterangan dari keluarganya, bahwa korban seorang perokok berat dan memiliki riwayat penyakit jantung. Keluarga mengakui, apabila korban sudah pamit istrinya saat ingin menemui UM, perempuan kenalannya.

 

 

 

"Dikarenakan menurut pihak keluarga atau ahli waris bahwa korban sebelumnya memiliki riwayat sakit jantung, serta pada tubuh korban tidak ditemukan tanda tanda kekerasan atau penganiayaan, maka pihak keluarga membuat surat permohonan dan pernyataan agar tidak dilakukan outopsi," imbuh petugas.

 

 

Atas kejadian tersebut pihak keluarga tidak menuntut pada pihak manapun. Maka selanjutnya jenasah korban setelah di visum di serahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. (em/ga) 

Tuesday, 24 April 2018 02:20

Kediri ( radiomadufm.com ) ---Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau akrab disapa Cak Imin, melakukan koordinasi bersama para pengurus PKB diwilayah Kota Kediri dalam rangka menjelang Pilpres 2019. Acara tersebut berlangsung di Ponpes Al Amin Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri, Senin sore (23/4/18). 

 

Menurut Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar mengatakan, pada PAC kita akan all out memenangkan Walikota Kediri pasangan Gus Aiz dan Jono dan yang kedua memenangkan Pilgub dan juga persiapan Pileg dan Pilpres, sedangkan untuk Pilpres alhamdulillah survei naik trus dan saya akan berusaha sekuat tenaga. Semua kekuatan NU dan pesantren, Alim Ulama kompak bersatu. 

 

"Sampai hari ini kita yakin masih  bersama Jokowi  kecuali nanti ada perkembangan lain, itu kan perintah Ulama, kita ikuti dulu sambil kita lihat perkembangan," ujarnya. 

 

Cak Imin menambahkan, selain dari partai PDI P semuanya kita ajak bicara maupun yang pro Jokowi maupun yang tidak pro Jokowi kita ajak semua bicara saling understanding. Sedangkan untuk poros baru agak sulit, tapi namanya politik tidak ada yang tidak mungkin karena politik ialah seni kemungkinan.

 

Dalam Sambutannya Muhaimin Iskandar Ketua Umum PKB yang akrab disapa Cak Imin mengakui bila sejumlha lembaga survey menyatakan bila Partai Kebangkitan Bangsa terus meningkat seiring terus dukungan dari warga NU.

 

"kita ( PKB ) sudah berada diatas dari Partai Demokrat, dan minimal kita nanti bisa menyamai Partai Gerindra.Dan menurut survey kenaikkan dukungan partai itu karena Ketua Umumnya "Nyapres" (Mencalonkan Presiden),sehingga saya bersama-sama PKB juga akan terus bersemangat dengan Mencalonkan Presiden maupun Cawapres untuk 'mendampingi' Jokowi nantinya,"sambutnya.(em/ga) 

Monday, 23 April 2018 14:12

Kediri ( radiomadufm.com ) ---Jalan Letjen Sutoyo, Kelurahan Burengan, Kecamatan Kota Kediri mengalami kemacetan parah, karena ada sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti mendadak, Senin (23/4/18). Pengemudi dan satu penumpangnya tidak sadarkan diri. Mereka diduga mengalami keracunan.Polisi masih melakukan uji labfor dengan mengambil sampel mamin yang dikonsumsinya dirumah kedua 'sejoli' itu.

 

Satreskrim Polresta Kediri masih menyelidiki kasus keracunan yang dialami pengendara mobil dari Tulungagung ini. Petugas menggeledah mobil korban dan mengambil sampel muntahan di dalam mobil. Polisi akan memintai keterangan korban secara intensif, apabila kondisinya sudah membaik.

 

 

Identitas kedua pengendara usai polisi melakukan pengeledahan tas korban di mobilnya, sopir mobil Peugeot 306 dengan Nopol AD 7493 PA itu adalah Haris Prasetyo (45), warga Desa Rejo Agung, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. Sementara satu penumpang di sebelahnya adalah Ferida Eko Riyanti (35), warga Desa Tanggul Turus, Kecamatan Besuki, Tulungagung. Keduanya langsung dilarikan ke Rumah Sakit Baptis, Kota Kediri. 

 

Awalnya, mobil berwarna hitam itu melajut dengan kecepatan tinggi dari barat. Tiba-tiba mobil berhenti di tengah jalan. Karena berhenti mendadak, mobil di belakangnya sempat gugup. Akhirnya terjadi kemacetan panjang. Warga yang penasaran kemudian menghampiri sopir dan pengemudi. Ternyata mereka tak sadarkan diri. Dari mulutnya keluar muntahan.

 

Kapolresta Kediri, AKBP Anthon Haryadi mengatakan, sopir dan pengemudi mengalami keracunan. Tetapi, penyebab keracunan masih belum dapat diketahui. Ada dugaan mereka keracunan minuman, karena sebelumnya mengkonsumsi juice. "Alhamdulillah, kondisinya sudah membaik, mereka sudah sadar, dan kini masih menjalani perawatan," kata AKBP Anthon Haryadi.

 

Dijelaskan Kapolresta Kediri, korban berasal dari Kabupaten Tulungagung. Mereka menempuh perjalanan ke Kediri dengan tujuan Dusun Katang, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Mereka mengantar sebuah barang kepada kenalannya. Setelah itu, mereka berniat kembali ke Tulungagung. Tetapi sampai di Jalan Letjen Sutoyo mereka mengeluh sakit kepala dan muntah-muntah.(em/ga)

 

Sunday, 22 April 2018 07:55

Kediri ( radiomadufm.com) - - Paska adanya surat Somasi yang dilayangkan GP Ansor Kota Kediri ke Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Kediri,  Panwaslu segera menjawab surat somasi yang diajukan Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Kediri beberapa hari yang lalu dengan menunjuk konsultan hukum.

 

"Tugas Panwas itu sebagai pengawasan dalam Pilkada dalam hal ini kami melakukan pengawasan terhadap Pilwali Kota Kediri dan PilGub Jatim,  sehingga  kami ( komosioner) sepakat melimpahkan hal ini kepada advokat, jangan sampai kami yang ada di panwas ini tidak konsen tidak fokus terhadap pengawasan ketika ada permasalahan-permasalahan hukum di luar kegiatan pengawasan kepemiluan. Maka kami yang ada di komisioner melimpahkan hal ini kepada advokat,” ujar Yudi Agung Nugraha Komisioner Panwaslu Kota Kediri Divisi Hukum dan Penanganan Pelanggaran, Minggu (22/4/18).

 

Yudi mengatakan, pihaknya telah menunjuk M Akson Nul Huda sebagai advokat yang akan menjadi mediator antara Panwaslu Kota Kediri dengan GP Ansor Kota Kediri. Pasalnya, dalam menjawab somasi tersebut nantinya akan di adakan mediasi sehingga membutuhkan mediator di dalamnya.

 

“Kita sedang ada permasalahan yang sebenarnya boleh kita bilang ini adalah permasalahan di internal kita yang di bawa keluar. Otomatis ketika nanti kita berdialog atau mediasi harus ada mediator, karena kita tidak mungkin menjadi mediator sendiri sehingga sangat bijak juga kami melimpahkan ini kepada advokat. Karena kita tidak sedang berhadapan dengan organisasi masyarakat apapun, tapi yang kita hadapi adalah permasalahan di pengawasan Pilwali Kota Kediri,” jelasnya.    

 

Sementara, M Akson mengaku, sudah membaca dan mencermati isi somasi yang dilayangkan GP Ansor Kota Kediri terhadap Panwaslu Kota Kediri. Dia mengatakan, akan bersikap dan menjawab somasi tersebut dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, dan akan mengkonfirmasi dan menindaklanjuti perihal kebenaran isi somasi tersebut.

 

“Agar persoalan ini tidak berlarut-larut maka kami akan mengundang dan mengajak dialog terhadap pihak dari Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Kediri dalam waktu secepatnya. Waktu dan tempat akan di tentukan di kemudian hari, dialog tersebut di lakukan secara terbuka,” jelasnya.

 

Seperti yang diberitakan sebelumnya, GP Ansor Kota Kediri melakukan aksi damai di depan kantor Panwaslu Kota Kediri, Kamis (19/4/18) kemarin. Aksi tersebut di warnai dengan selebaran kertas yang muatannya identik dengan isi Surat Somasi dengan Nomor ; 06/LBH/IV/2018, yang di tujukan kepada Panwaslu Kota Kediri.(em/pd)

Thursday, 19 April 2018 07:27

Kediri ( radiomadufm.com)  -- Belasan anggota Pengurus Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kota Kediri menggeruduk Kantor Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) setempat di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kota Kediri, Kamis (20/4/18). Massa menggelar aksi unjuk rasa menuntut mundur ketua panwaslu Kota Kediri

 

Aksi damai massa yang mengatasnamakan Solidaritas Peduli Demokrasi atau SoLiD ini dilatar belakangi adanya dugaan pelanggaran etika dan pelanggaran pidana yang dilakukan oleh oknum Panwaslu dan Panwas Kecamatan. GP Ansor Kota Kediri akan membawa persoalan ini jenjang lebih tinggi yaitu ke Bawaslu Provinsi Jawa Timur dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (KPP) setempat.

 

 

Bagus Wibowo, selaku koordinator aksi mengatakan, ada 10 orang GP Ansor Kota Kediri yang menjadi pengawas pemilu. Tetapi mereka diminta mundur dari keanggotaan Ansor. Tindakan panwaslu dianggap tidak mendasar pada aturan dan telah mencederai Ormas GP Ansor.

 

 

 

“Kader kami, kebetulan menjadi Panwascam dan PPL diminta mundur oleh Panwaslu. Padahal tidak ada aturan yang mengharuskan Panwacam atau PPL mundur. Sesuai aturan, permintaan mundur itu setara Pawansalu tingkat Kota/Kabupaten ke atas. Oleh karena itu, kami meminta supaya Panwaslu minta maa baik lisan maupun secara tertulis,” desaknya.

 

 

 

Masih kata Ahong, panggilan akrab Bagus Wibowo, ada oknum Panwaslu Kota Kediri dan Panwascam yang melakukan pelanggaran etika. Mereka bekerja secara subyektifitas yaitu atas dasar senang dan tidak senang.

 

 

 

“Panwaslu ini ada bimteknya. Kami minta lebih melek dan paham hukum. Jangan hanya subyektifitas kemudian minta PPL melaksanakan tugasnya, tetapi tanpa ada dasar hukumnya.Sehingga, dugaan-dugaan pelanggaran pemilu yang ditangani akhirnya mental. Bener ada plenonya, tetapi ketika diajukan keBawaslu, mental,”

 

 

 

Persoalan paling fatal lagi, imbuh Ahong, dalam perekrutan anggota Panwascam maupun Panitia Pengawas Lapangan (PPL) terjadi unsure suap atau KKN. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) GP Ansor Kota Kediri mendapatkan temuan adanya praktek suap yang tidak bisa ditolerir dalam peraturan perundang-undangan. Data tersebut berada ditangan LBH GP Ansor dan akan dikirimkan ke Bawaslu Provinsi Jawa Timur serta DKPP.

 

 

 

“Data mengenai perbuatan suap dalam rekrutmen panwascam dan PPL kami bawa. Tetapi, kami tidak bisa sebutkan, karena berkaitan dengan saksi yang harus dilindungi. Tetapi, bilamana Komisi Etik maupun Bawaslu Jatim yang melakukan pemeriksaan membutuhkan data, akan kami sampaikan,” janjinya.

 

 

 

Dalam aksi unjuk rasa ini, GP Ansor bersama LBH GP Ansor dan Banser memberikan kado sebuah ‘Keranda Mayat’ kepada Panwaslu Kota Kediri. Hadiah tersebut diberikan dengan maksud, sebagai simbol bahwa demokrasi di Panwaslu Kota Kediri sudah mati. Mereka juga melayangkan surat somasi kepada Panwaslu Kota Kediri dengan lima poin tuntutan.

 

 

Ketua Panwaslu Kota Kediri Yoni  membantah, sudah meminta mundur anggota Panwacam maupun PPL dari keanggotaan ormas maupun partai politik. Menurutnya, hanya bersifat sementara selama proses pengawasan berlangsung untuk menjaga netralitas. Sementara mengenai somasi GP Ansor Kota Kediri, pihaknya akan mempelajari terlebih dahulu.

 

 

 

“Dari somasi tersebut, kita perlu pelajari dulu. Sehingga kita memberikan jawaban sesuai undang-undangan dan aturan yang berlaku. Yang meminta mundur siapa. Tidak pernah memberikan pernyataan seperti itu. Untuk masalah keanggotaan, Panwaslu tidak pernah meminta mundur, kecuali yang ada di kepengurusan ormas sebagaimana petunjuk Bawaslu Jawa Timur, sementaraoff dulu dari keanggotaan ormas,” jelasnya.

 

 

Yoni membacakan Pedoman Pelaksaan Pembentukan Panwaslu Kelurahan/Desa Pada Pemilihan Umum Serta Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati dan atau Walikota dan Wakil Walikota. Pada poin (k) menjelaskan, bersedia mengundurkan diri dari kepengurusan organisasi kemasyarakatan yang berbadan hukum dan tidak berbadan hukum apabila telah terpilih menjadi anggota Panwaslu Kelurahan/Desa, yang dibuktikan dengan surat pernyataan.

 

Massa GP Ansor Kota Kediri akhirnya mengakhiri aksinya setelah kado keranda mayat diterima panwaslu bersama surat somasinya. GP Ansor menunggu jawaban dari Panwaslu Kota Kedir 1 X24 jam. Apabila tidak ada jawaban, GP Ansor akan menggelar aksi kembali dengan jumlah massa jauh lebih banyak lagi. (em/ga) 

Wednesday, 18 April 2018 04:56

Kediri ( radiomadufm.com - Ular Phyton sepanjang 4 meter menggegerkan warga Kelurahan Lirboyo Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. saat ditemukan di rumah warga, ular tersebut sempat dikira ikan lele. Rabu (18/4) pagi.

 

Ular tersebut pertamakali ditemukan oleh Permini warga setempat saat hendak melaksanakan solat subuh. Parmini kemudian menyampaikan temuannya kepada Sholekan, hingga ahirnya solekan memanggil rekan-rekannya. Pada pukul 05.20 Sholekan bersama dengan warga berhasil mengamankan ular tersebut.

 

"Saya pas mau keluar bukakan pintu ibu itu melihat tidak ada apa - apa. Hingga ahirnya ibu keluar dan katanya melihat sesutu yang berkilauan, pertama - tama dikira lele, setelah di lihat lagi ternyata ular besar sekali. Sontak saya memanggil warga sekitar," ujar Andik anak dari Parmini.

 

Sementara itu Kanit Trantibum Satpol PP Kota Kediri Nur Kamid  membenarkan hal itu dirinya menjelaskan bahwa pada pagi tadi Satpol PP menerima laporan terkait penemuan ular Phyton di pemukiman penduduk.

 

"Langkah yang diambil Melakukan pengecekan TKP,  melakukan dialog dengan para saksi, penggalian informasi, dan juga menyampaian pemahaman bahwa ular phyton memang tidak berbisa namun lilitan dan gigitannya dapat mematikan sehingga dihimbau agar berhati-hati, dan sementara ularnya saat ini diamankan oleh warga," pungkasnya.(em/ga) 

Monday, 16 April 2018 14:00

Kediri ( radiomadufm.com) - - - - Ledakan terjadi di SPBE PT Sinar Hasil Buana di Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Senin (16/4/18) sore. Akibat kejadian itu Hari Yudianto (36) warga Desa Besuk, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Hari dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Kediri, karena mengalami luka bakar di tubuhnya. 

 

Leadakan ini berasal dari tabung elpiji 50 kilogram (kg). Tabung berada di ruang mesin warp yang mengalami tekanan tinggi. 

 

Semula, pukul  14.00 WIB, salah satu karyawan di pos jaga mendenngar suara mendesis. Suara menyerupai tabung elpiji yang bocor alias ngobos. Tak lama berselang disusul suara ledakan keras.

 

Ledakan berasal dari ruang mesin warp. Petugas keamanan melihat terjadi kebakaran. Nahas dialami Hari. Karyawan bagian mekanik mesin warp ini terkena semburan api.

 

Tidak hanya itu, sejumlah kendaraan bermotor yang terparkir di lokasi juga turut terbakar. Petugas keamanan berusaha memadamkan api dan menolong korban.

 

Anggota Polsek Gampengrejo dan Polres Kediri menerima laporan kejadian tersebut. Petugas langsung datang untuk melakukan olah TKP.

 

“Tabung gas elpiji 50 kg berada di ruang mesin warp mengalami tekanan tinggi yang disebabkan oleh panas. Hal tersebut mengakibatkan tabung pecah pada sambungan dan disambar oleh api pembakaran,” Kapolsek Gampengrejo AKP. Mukhlason. 

Lebih lanjut Kapolsek menegaskan,  setidaknya ada juga 40kendaraan terimbas dari ledakan tabung gas tersebut hingga kondiainya terbakar disejumlah bagian. (em/ga) 

Live Madu TV

Live Radio Madu FM



Get connected with Us