Breaking News
Telapak Kaki "Nyembul" Di Atas Makam - Wednesday, 16 May 2018 15:12
Walikota Serahkan Kunci Di Program Bedah Rumah - Saturday, 10 February 2018 07:20
IMB Bagi Masjid Di Kota Kediri - Friday, 09 February 2018 08:01
Transaksi Non Tunai Bagi Guru Madin TPA - Friday, 09 February 2018 08:01
ProDaMas 2018 Mulai Terealisasi - Wednesday, 07 February 2018 11:11
Dua Santri Hanyut Diterjang Air Bah - Tuesday, 06 February 2018 02:06
Polisi Tangkap Pembuang Bayi - Monday, 05 February 2018 11:05
Hari Kanker Sedunia Di CFD Jalan Dhoho - Sunday, 04 February 2018 06:13
Puluhan Warga Terpaksa Menutup Operasional MJB - Saturday, 03 February 2018 10:11
Puluhan Massa "Cari" Kepala Kantor BPMPD - Friday, 02 February 2018 23:45
ProDaMas 2018 Segera Direalisasikan - Friday, 02 February 2018 12:12

Mahasiswa Unair Ciptakan Oven Bioetanol untuk Wingko

Surabaya (radiomadufm.com), Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menciptakan oven bioetanol untuk memproduksi Wingko Babat yang ramah lingkungan dan mampu meningkatkan produksi wingko.



"Dalam kompetisi karya tulis ilmiah nasional di Universitas Sumatera Utara, 19-23 Februari 2015, oven bioetanol itu memenangi Juara II USU National Scientific Challenge Event," kata mahasiswi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Unair, Yousida Hariani, Rabu.

Didampingi rekannya Masliana dari FST dan rekannya dari FPK, Ichwan Rosidi, ia menjelaskan Oven Bioraling (oven bioetanol ramah lingkungan) itu mampu meningkatkan produksi jajanan khas Tuban yang terbuat dari tepung ketan dan parutan kelapa itu.

Awalnya, Yousi dan rekan-rekannya melihat bahwa di daerahnya, Babat, Tuban, banyak pengusaha wingko babat yang bergantung pada bahan bakar kayu jati. Dalam satu kali produksi wingko dengan bahan baku 1 kuintal tepung ketan dibutuhkan bahan bakar 30 kilogram kayu jati.

Masalahnya, untuk menghasilkan wingko yang empuk dan tahan lama dibutuhkan suhu konstan 170-180 derajat celsius yang bisa dihasilkan dari kayu jati, sedangkan suhu tertinggi yang bisa dihasilkan kayu lain hanya 150-160 derajat celsius yang bisa mengurangi kualitas wingko.

Sementara itu, harga kayu jati Rp35 ribu per kilogram dan jika penggunaan kayu jati sebagai bahan bakar tidak dikendalikan, maka lambat laun bahan bakar ini akan langka, mengingat siklus hidup pohon jati cukup lama.

"Namun, bioetanol sebagai bahan bakar alternatif yang dibuat dari sampah organik apapun bisa menghasilkan panas sebesar 170-200 derajat celsius, karena itu kami merancang oven dan kompor dengan bahan bakar bioetanol," katanya.

Oven rancangan mereka terdiri atas pelat, pipa stainless steel, pengontrol suhu, dan "blower" untuk meratakan suhu di dalam oven, sedangkan panas oven berasal dari kompor bioetanol yang tersusun atas burner, pipa, regulator, dan tangki bioetanol.

Ia berharap masyarakat, khususnya industri, bisa beralih ke bahan bakar bioetanol. "Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar diharapkan bisa meningkatkan produksi karena lebih ekonomis," ungkap Yousi.

Sementara itu, empat mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya juga menyabet juara kedua dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang diselenggarakan Teknik Industri Universitas Indonesia, Jakarta pada 12 Maret 2015.

Keempat orang mahasiswa adalah Cynthia Candradewi, Stefanie Mariana Linardi, Derried Anwar dan Hendry Sugianto Setiawan. Mereka berhasil menang dan membawa pulang piala, sertifikat, dan uang 1.750 dollar AS.

Dalam kompetisi yang mengusung tema "Increasing the Competitiveness of Gas-based Industry to Support Energy Security Through Strategic Management" itu, mereka bersaing dengan peserta dari 25 universitas terbaik se-Indonesia. (antara)

Read 2442 times
Rate this item
(0 votes)
Published in Pendidikan

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Live Madu TV

Live Radio Madu FM



Get connected with Us