Tuesday, Apr 14 2015

 

 

 

 

Kediri (radiomadufm.com), Bank Indonesia Kediri menyarankan kepada Pemerintah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, lebih berani menambah destinasi wisata dan tidak hanya fokus pada pengembangan wisata Gunung Kelud (1.731 meter di atas permukaan laut).

Sunday, Apr 05 2015

 

 

 

Oleh MH Nurul Huda* Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) NU genap berusia 53 tahun yang jatuh tepat pada 29 Maret lalu. Berkat karunia Allah Yang Maha Pemurah semata kemudian kerja keras pengemban amanatnya, lembaga seni-budaya NU yang kita cintai ini masih bertahan dengan vitalitas tinggi yang memberinya daya juang. 

Bersamaan dengan itu rasa syukur patut dihaturkan, mengingatpenulis diberi kesempatanmengemukakan pandangan pribadinya di halaman media ini. 

Sebagaimana Lesbumi di usianya kini, kita semua sedang hidup dalam kondisi-kondisi baru yang turut serta mensituasikan eksistensi kita sendiri. Tumbuhnya ragam media sosial seperti situs-situs online, Facebook, Twitter, dan lain-lain tak dapat disangkal turut membentuk situasi baru ini dan sekaligus membentuk cara pandang terhadap kenyataan dan ekspresi kita terhadapnya. 

Lihatlah berkah media sosial (medsos) ini. Setiap orang dapat berbagi pengalaman, pendapat, pikiran dan perasaan. Namun di pihak lain juga ia dapat berbagi kehidupan paling pribadi dan bahkan paling privat-intim kepada orang lain dalam suatu jalinan kontak pertemanan. Sejauh melalui medsos, tidak begitu jelas bedanya apakah ia sedang berbagi gagasan ataukah menumpahkan beban hidup. Mengkritik ataukah menghina pihak lain. Mencerahkan ataukah menyesatkan. Masing-masing orang seperti hidup di hutan belantara sambil menutup mata, syukur-syukur bila di hutan itu ada manusianya bila hanya kawanan binatang pun tak masalah. Yang penting saya bebas, bebas bicara, tak perlulah peduli dampaknya. Saya men-twit, maka saya eksis.

Kita hidup di jaman baru. Teknologi komunikasi dan informasi yang paling mutakhir membantu dalam merentangkan eksistensi kita. Berkat teknologi, terjadi perentangan si “Aku” dan hasrat-hasratku. “Aku” di sini adalah pusat, poros. Aku, hasrat dan pikiranku sendiri yang eksis, dan aku semakin nyata eksis berkat bantuan teknologi media sosial. Bila dibuat sebuah formula, maka:
Aku + Media Sosial = Aku-Medsos

Lahirnya “aku-medsos” termasuk gejala paling revolusioner di generasi sekitar awal abad ini. Pengalaman manusia “aku-medsos” ini pasti berbeda dengan pengalaman orang tua atau kakek-neneknya pada masa lalu. Konflik keluarga para aku-medsos tiba-tiba muncul di media massa. Mereka berkomunikasi, marah, benci, atau mengumpat pasangan hidupnya lewat Facebook dan Twitter. 

Bagi anak-anak jaman dulu masih harus “naik delman” saat berlibur menemui kakek-neneknya di kota dan bersilaturahmi langsung dengan mereka. Kini mereka tak harus naik delman, cukup dengan menelpon atau berbicara lewat kamera ponsel bervideo atau via Facebook dan Twitter. Jika mereka mau belajar agama tidak langsung kepada ustadz atau kiai di pesantren, tapi cukup lewat mesin pencari Google. Mereka belajar dan menerima asupan informasi secara bebas dan yang dianggap paling menarik melalui mesin itu.

Dalam kenyataan ada dua bentuk “aku-medsos”, yakni: “AKU-medsos” dan “aku-MEDSOS”. Formula pertama (AKU-medsos) mewakili suatu citra atau karakter ke-aku-an yang pada taraf tertentu masih otentik. Aku hadir dan menyatakan diri secara otentik, asli, dalam kehidupan publik luas dan secara publik yang anonim. 

Adapun formula kedua adalah aku yang tak lagi otentik. Dalam kehidupan politik mutakhir misalnya, aku-MEDSOS disebut secara umum sebagai pencitraan belaka. Media sosial seperti Facebook dan Twitter menjadi instrumen yang justru lebih penting dari aku sendiri. Eksistensiku bahkan dikuasai atau ditentukan sepenuhnya oleh medsos. Yang mengkhawatirkan dari aku-MEDSOS adalah bahwa ia akan mengantarkan kepada suatu generasi yang hidup tanpa fondasi, tanpa prinsip, dan bahkan bisa jadi anti-fondasi atau anti-prinsip. Setiap informasi ditelan mentah-mentah, kadang ia kebingungan dan terkecoh di dalam belantara informasi itu. Aku-medsos berpotensi jatuh pada sikap hidup tanpa nilai, tanpa norma.

Aku-medsos dalam kedua bentuknya itu sama-sama punya kecenderungan khusus yang sifatnya umum entah disadari ataukah tidak, yakni sifatnya yang egoistik dan narsistik. Dalam situasi dan jaman baru, tak ada yang dapat menghindar dari sifat itu. Celakanya, keduanya cenderung menganggap orang lain sebagai objek belaka. Aku-medsos kehilangan hati dan empati, kehilangan sensitivitas dan bela-rasa, karena semuanya hanyalah objek dalam selewatan pandangan mata. Ia juga seperti gelembung, yang tercerabut dari kehidupan sehari-hari. 

Gejala “aku” yang egoistik dan individualistik dalam aku-medsos sebenarnya tidaklah baru-baru amat. Ia produk filsafat Barat modern sejak Rene Descartes dimana dualitas “jiwa-materi” diperlakukan secara absolut. Dualitas menjadi dualisme “jiwa-materi” atau dualisme “jiwa-tubuh”dimana materi/tubuh menjadi superior diatas segala-galanya. 

Materialisme lalu bertempur dengan spiritualitas. “Cogitoergosum”, kata Descartes. Saya berpikir maka saya ada. Dan sejak Descartes itu pula “intelek” (Ruh [Arab], Nous [Yunani], Intellectus [Latin] yang mampu mengenalkan dan menghubungkan manusia secara metafisik dengan Tuhan dan kesatuan alam ciptaan) direduksi menjadi sekadar “rasio”. 

Manusia adalah rasionya, yang lalu rasio teknologis ini menjajah dunia kehidupan. Gejala inilah yang disebut oleh filosof Rene Genoun dan SeyyedHoseinNasr, serta sejarahwan Arnold Toynbee dan OswaldSpengler sebagai awal tragedi filsafat Barat Modern. 

Lupa akan keberadaan hakikinya, manusia lalu menjadi demikian rakus, sembrono, dan tidak eling. Rasio atau ego-nya menjadi pusat segala-segalanya, dipujanya seperti Tuhan. Kita lupa bahwa eksploitasi manusia dan sumberdaya alam (kolonialisme dan imperialisme) adalah penyimpangan lama yang direproduksi secara terus menerus oleh manusia-manusia masa kini. Ia adalah produk filsafat Barat modern yang melepaskan jiwa dari materi, menceraikan ruh dari tubuh, dan memusnahkan intelek yang digantinya rasio. 

Lalu apa bedanya eksploitasi atas tubuh manusia dan eksploitasi atas tubuh alam?  Keduanya adalah produk superioritas rasio dan materialism sepenuhnya di atas jiwa, ruh dan spiritualitas. Ia adalah suatubentuk ego manusia dan narsisismenya yang atas nama kebebasan (freedom) memperlakukan manusia dan alam sebagai komoditi ekspor yang dijajakan secara massif lewat iklan perempuan molek di media massa. Manusia maupun alam yang sudah dikeringkan dari spiritualitasnya itu dibajak oleh kerakusan mereka yang paling kuat baik fisiknya, teknologinya maupun modalnya. Tanpa disadari ia merasuki darah daging sosial, politik, dan ekonomi kita.

Kalau situasi ini dihubungkan dengan suasana kebudayaan kita mutakhir, maka tubuh adalah pusat pemujaan yang ironisnya sekaligus dihinakan, yang melupakan “tubuh” kebudayaan itu sendiri sebagai suatu totalitas kehidupan (totality of being). [Wallahua’lambissawab]


MH Nurul Huda, Dosen STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyah Jakarta

 

 

 

Friday, Feb 20 2015

Surabaya (radiomadufm.com), Kritikus sastra dari Universitas Indonesia Maman S Mahayana menerbitkan buku berjudul "Kitab Kritik Sastra" yang peluncurannya dirangkai dengan diskusi di kampus UI Depok, Jawa Barat, 18 Februari 2015.



Maman dalam keterangan tertulisnya yang diterima Antara di Surabaya, Minggu, menjelaskan penerbitan buku itu membuktikan bahwa tidak benar jika dikatakan masyarakat Indonesia tidak punya tradisi kritik, khususnya sastra.

Sastrawan yang selama 4,5 tahun menjadi dosen tamu di "Hankuk University of Foreign Studies" (HUFS) di Kota Seoul, Korea Selatan, ini juga membantah anggapan bahwa kritik sastra Indonesia mengalami kelesuan.

"Buku ini memuat sejumlah contoh atau model kritik sastra, seperti kritik puisi, novel, cerpen, polemik, dan materi lain yang berkaitan dengan bidang kritik sastra," katanya.

Peluncuran buku setebal 431 halaman yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia itu akan diisi dengan diskusi dengan pembicara Mgr Martina Rysova (Jurusan Studi Asia pada Fakultas Seni Universitas Palacky, Republik Ceko) dan Dr Tommy Christomy (FIB UI).

Sementara Ketua Departemen Susastra FIB UI Dr Fauzan Muslim yang akan bertindak sebagai moderator mengatakan bahwa dalam rangka terus menumbuhkembangkan tradisi ilmiah, pihaknya sudah merancang serangkaian kegiatan peluncuran dan diskusi buku.

"Baik itu karya staf pengajar FIB-UI sendiri, maupun karya penulis lain yang dinilai penting dalam pengembangan bidang sastra. Dalam kerangka ini peluncuran buku Kitab Kritik Sastra ini kami selenggarakan," ujarnya.

Sementara pengajar jurusan Indonesia pada Inalco (Institut National des Langues et Civilisations Orientales), Paris, Prancis, Dr Etienne Naveau, dalam kata pengantar buku itu mengungkapkan bahwa "Kitab Kritik Sastra" itu menunjukkan kepada kita mengenai tradisi kritik Indonesia yang majemuk.

"Selain memberi banyak fakta, renungan dan pemikiran tentang keterikatan sastra Indonesia dengan masyarakat dan kebudayaannya," katanya. (antara jatim)

Friday, Feb 13 2015

 

 

 

Cirebon (radiomadufm.com), Rotan juga menjadi ciri khas Kota Cirebon.  80 persen produk rotan nasional dihasilkan di kota yang terkenal sebagai penghasil udang terbesar di Indonesia. Beragam bentuk meubel , seperti meja dan kursi , dikerjakan oleh perajin yang menyebar di 6 kecamatan di Cirebon.

Thursday, Feb 12 2015

 

 

 

Cirebon (radiomadufm.com), Siapa yang tak kenal dengan empal gentong , nasi jamblang atau gua sunyaragi yang menjadi ikon Kota Cirebon. Selain itu semua, Cirebon juga mempunyai ikon lain yakni batik, yang layak menjadi koleksi dan busana anda .

Sunday, Dec 15 2013

Riak air muncul saat ikan-ikan berlalu lalang di kolam cantik yang berada di area Tirta Gangga. Sementara pengunjung tampak asyik berjalan-jalan di atas kolam. Tirta Gangga berada di Kabupaten Karangasem, Bali. Istana air ini dibangun tahun 1948 oleh Raja Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Fungsinya sebagai tempat peristirahatan.

Sunday, Dec 15 2013

Wakil Presiden Boediono meminta agar pemerintah daerah terus mengembangkan pariwisata bahari untuk membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Saat memberikan sambutan pada puncak peringatan Hari Nusantara 2013 di Palu, Sabtu (14/12/2013), Boediono menyebutkan wisata bahari itu antara lain "Sail Indonesia" yang terdiri dari Sail Bunaken, Sail Wakatobi atau Sail Raja Ampat, dan kegiatan sejenisnya.

Sunday, Dec 15 2013

Sisi timur Bali seringkali dianggap eksotis. Berbeda dengan kawasan selatan yang ramai, kawasan timur cenderung menawarkan turis suasana sepi dan masih kental tradisi Bali. Salah satu kabupaten yang menawarkan pengalaman seperti itu adalah Kabupaten Karangasem. Berikut 10 aktivitas wisata yang bisa dilakukan di Karangasem.

Page 1 of 3

Live Madu TV

Live Radio Madu FM


Get connected with Us