“Aku” dan “Aku-Medsos”: Kebudayaan Tubuh dan Tubuh Kebudayaan

 

 

 

Oleh MH Nurul Huda* Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) NU genap berusia 53 tahun yang jatuh tepat pada 29 Maret lalu. Berkat karunia Allah Yang Maha Pemurah semata kemudian kerja keras pengemban amanatnya, lembaga seni-budaya NU yang kita cintai ini masih bertahan dengan vitalitas tinggi yang memberinya daya juang. 

Bersamaan dengan itu rasa syukur patut dihaturkan, mengingatpenulis diberi kesempatanmengemukakan pandangan pribadinya di halaman media ini. 

Sebagaimana Lesbumi di usianya kini, kita semua sedang hidup dalam kondisi-kondisi baru yang turut serta mensituasikan eksistensi kita sendiri. Tumbuhnya ragam media sosial seperti situs-situs online, Facebook, Twitter, dan lain-lain tak dapat disangkal turut membentuk situasi baru ini dan sekaligus membentuk cara pandang terhadap kenyataan dan ekspresi kita terhadapnya. 

Lihatlah berkah media sosial (medsos) ini. Setiap orang dapat berbagi pengalaman, pendapat, pikiran dan perasaan. Namun di pihak lain juga ia dapat berbagi kehidupan paling pribadi dan bahkan paling privat-intim kepada orang lain dalam suatu jalinan kontak pertemanan. Sejauh melalui medsos, tidak begitu jelas bedanya apakah ia sedang berbagi gagasan ataukah menumpahkan beban hidup. Mengkritik ataukah menghina pihak lain. Mencerahkan ataukah menyesatkan. Masing-masing orang seperti hidup di hutan belantara sambil menutup mata, syukur-syukur bila di hutan itu ada manusianya bila hanya kawanan binatang pun tak masalah. Yang penting saya bebas, bebas bicara, tak perlulah peduli dampaknya. Saya men-twit, maka saya eksis.

Kita hidup di jaman baru. Teknologi komunikasi dan informasi yang paling mutakhir membantu dalam merentangkan eksistensi kita. Berkat teknologi, terjadi perentangan si “Aku” dan hasrat-hasratku. “Aku” di sini adalah pusat, poros. Aku, hasrat dan pikiranku sendiri yang eksis, dan aku semakin nyata eksis berkat bantuan teknologi media sosial. Bila dibuat sebuah formula, maka:
Aku + Media Sosial = Aku-Medsos

Lahirnya “aku-medsos” termasuk gejala paling revolusioner di generasi sekitar awal abad ini. Pengalaman manusia “aku-medsos” ini pasti berbeda dengan pengalaman orang tua atau kakek-neneknya pada masa lalu. Konflik keluarga para aku-medsos tiba-tiba muncul di media massa. Mereka berkomunikasi, marah, benci, atau mengumpat pasangan hidupnya lewat Facebook dan Twitter. 

Bagi anak-anak jaman dulu masih harus “naik delman” saat berlibur menemui kakek-neneknya di kota dan bersilaturahmi langsung dengan mereka. Kini mereka tak harus naik delman, cukup dengan menelpon atau berbicara lewat kamera ponsel bervideo atau via Facebook dan Twitter. Jika mereka mau belajar agama tidak langsung kepada ustadz atau kiai di pesantren, tapi cukup lewat mesin pencari Google. Mereka belajar dan menerima asupan informasi secara bebas dan yang dianggap paling menarik melalui mesin itu.

Dalam kenyataan ada dua bentuk “aku-medsos”, yakni: “AKU-medsos” dan “aku-MEDSOS”. Formula pertama (AKU-medsos) mewakili suatu citra atau karakter ke-aku-an yang pada taraf tertentu masih otentik. Aku hadir dan menyatakan diri secara otentik, asli, dalam kehidupan publik luas dan secara publik yang anonim. 

Adapun formula kedua adalah aku yang tak lagi otentik. Dalam kehidupan politik mutakhir misalnya, aku-MEDSOS disebut secara umum sebagai pencitraan belaka. Media sosial seperti Facebook dan Twitter menjadi instrumen yang justru lebih penting dari aku sendiri. Eksistensiku bahkan dikuasai atau ditentukan sepenuhnya oleh medsos. Yang mengkhawatirkan dari aku-MEDSOS adalah bahwa ia akan mengantarkan kepada suatu generasi yang hidup tanpa fondasi, tanpa prinsip, dan bahkan bisa jadi anti-fondasi atau anti-prinsip. Setiap informasi ditelan mentah-mentah, kadang ia kebingungan dan terkecoh di dalam belantara informasi itu. Aku-medsos berpotensi jatuh pada sikap hidup tanpa nilai, tanpa norma.

Aku-medsos dalam kedua bentuknya itu sama-sama punya kecenderungan khusus yang sifatnya umum entah disadari ataukah tidak, yakni sifatnya yang egoistik dan narsistik. Dalam situasi dan jaman baru, tak ada yang dapat menghindar dari sifat itu. Celakanya, keduanya cenderung menganggap orang lain sebagai objek belaka. Aku-medsos kehilangan hati dan empati, kehilangan sensitivitas dan bela-rasa, karena semuanya hanyalah objek dalam selewatan pandangan mata. Ia juga seperti gelembung, yang tercerabut dari kehidupan sehari-hari. 

Gejala “aku” yang egoistik dan individualistik dalam aku-medsos sebenarnya tidaklah baru-baru amat. Ia produk filsafat Barat modern sejak Rene Descartes dimana dualitas “jiwa-materi” diperlakukan secara absolut. Dualitas menjadi dualisme “jiwa-materi” atau dualisme “jiwa-tubuh”dimana materi/tubuh menjadi superior diatas segala-galanya. 

Materialisme lalu bertempur dengan spiritualitas. “Cogitoergosum”, kata Descartes. Saya berpikir maka saya ada. Dan sejak Descartes itu pula “intelek” (Ruh [Arab], Nous [Yunani], Intellectus [Latin] yang mampu mengenalkan dan menghubungkan manusia secara metafisik dengan Tuhan dan kesatuan alam ciptaan) direduksi menjadi sekadar “rasio”. 

Manusia adalah rasionya, yang lalu rasio teknologis ini menjajah dunia kehidupan. Gejala inilah yang disebut oleh filosof Rene Genoun dan SeyyedHoseinNasr, serta sejarahwan Arnold Toynbee dan OswaldSpengler sebagai awal tragedi filsafat Barat Modern. 

Lupa akan keberadaan hakikinya, manusia lalu menjadi demikian rakus, sembrono, dan tidak eling. Rasio atau ego-nya menjadi pusat segala-segalanya, dipujanya seperti Tuhan. Kita lupa bahwa eksploitasi manusia dan sumberdaya alam (kolonialisme dan imperialisme) adalah penyimpangan lama yang direproduksi secara terus menerus oleh manusia-manusia masa kini. Ia adalah produk filsafat Barat modern yang melepaskan jiwa dari materi, menceraikan ruh dari tubuh, dan memusnahkan intelek yang digantinya rasio. 

Lalu apa bedanya eksploitasi atas tubuh manusia dan eksploitasi atas tubuh alam?  Keduanya adalah produk superioritas rasio dan materialism sepenuhnya di atas jiwa, ruh dan spiritualitas. Ia adalah suatubentuk ego manusia dan narsisismenya yang atas nama kebebasan (freedom) memperlakukan manusia dan alam sebagai komoditi ekspor yang dijajakan secara massif lewat iklan perempuan molek di media massa. Manusia maupun alam yang sudah dikeringkan dari spiritualitasnya itu dibajak oleh kerakusan mereka yang paling kuat baik fisiknya, teknologinya maupun modalnya. Tanpa disadari ia merasuki darah daging sosial, politik, dan ekonomi kita.

Kalau situasi ini dihubungkan dengan suasana kebudayaan kita mutakhir, maka tubuh adalah pusat pemujaan yang ironisnya sekaligus dihinakan, yang melupakan “tubuh” kebudayaan itu sendiri sebagai suatu totalitas kehidupan (totality of being). [Wallahua’lambissawab]


MH Nurul Huda, Dosen STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyah Jakarta

 

 

 

Read 1463 times
Rate this item
(0 votes)
Published in Seni Budaya

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Live Madu TV

Live Radio Madu FM


Get connected with Us