Breaking News
Telapak Kaki "Nyembul" Di Atas Makam - Wednesday, 16 May 2018 15:12
Walikota Serahkan Kunci Di Program Bedah Rumah - Saturday, 10 February 2018 07:20
IMB Bagi Masjid Di Kota Kediri - Friday, 09 February 2018 08:01
Transaksi Non Tunai Bagi Guru Madin TPA - Friday, 09 February 2018 08:01
ProDaMas 2018 Mulai Terealisasi - Wednesday, 07 February 2018 11:11
Dua Santri Hanyut Diterjang Air Bah - Tuesday, 06 February 2018 02:06
Polisi Tangkap Pembuang Bayi - Monday, 05 February 2018 11:05
Hari Kanker Sedunia Di CFD Jalan Dhoho - Sunday, 04 February 2018 06:13
Puluhan Warga Terpaksa Menutup Operasional MJB - Saturday, 03 February 2018 10:11
Puluhan Massa "Cari" Kepala Kantor BPMPD - Friday, 02 February 2018 23:45
ProDaMas 2018 Segera Direalisasikan - Friday, 02 February 2018 12:12

Musim Tanam Padi, Alas Malang Gelar Tradisi Kebo-keboan

Ribuan masyarakat Banyuwangi memenuhi sepanjang jalan Desa Alas Malang, Kecamatan Singonjuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (10/11/2013). Mereka menyaksikan upacara tradisi kebo-keboan yang digelar setiap awal musim tanam padi sebagai wujud syukur atas hasil bumi yang melimpah di wilayah desa mereka.

Kebo-keboan adalah bahasa daerah yang berarti kerbau jadi-jadian. Peserta yang bertubuh tambun berdandan layaknya kerbau lengkap dengan tanduk buatan serta melumuri tubuhnya dengan cairan hitam yang terbuat dari oli dan arang.

Mereka juga menarik bajak mengeliling sepanjang jalan desa Alas Malang di iringi dengan musik khas Banyuwangi. Indra Gunawan, tokoh masyarakat Alas Malang kepada Kompas.com mengatakan arak-arakan kebo-keboan diikuti oleh rombongan ibu-ibu berbusana petani dan membawa hasil bumi.

"Nah... selain itu juga ada Putri yang duduk dalam kereta diikuti oleh para penari yang menjadi perwujudan Dewi Sri yang dikenal sebagai Dewi Padi dan Dewi Kemakmuran," katanya.

Indra menjelaskan, tradisi ini sudah berlangsung sejak abad 18. Jika tidak dilakukan masyarakat yakin akan muncul musibah di desa mereka.

Sebelum Kebo-keboan diarak, masyarakat membangun gapura di tiap gang yang digantung berbagai macam hasil bumi seperti padi, singkong, jagung kelapa dan berbagai macam hasil perkebunan dan pertanian. Tradisi berakhir ketika Putri, simbol Dewi Sri menaburkan benih padi di tanah sawah basah, dan peserta kebo-keboan berusaha menghalangi warga yang akan mengambil benih padi tersebut dengan menarik mereka dalam kubangan.

Syamsul Arifin, warga setempat menjelaskan, dia sengaja mengambil bibit padi yang disebar di sawah. "Saya percaya kalau benih tadi dicampur dengan bibit padi saya, panen akan berhasil dan hasilnya akan lebih banyak," katanya.

Untuk mendapatkan setangkai bibit, Syamsul harus bergumul di dalam kubangan bersama peserta yang menjadi pemeran kebo-keboan. Dia mengaku tidak masalah bajunya kotor karena cairan hitam dari kebo-keboan dan juga lumpur sawah. "Nggak boleh marah karena ini memang tradisi dan ini sangat menyenangkan sekali," kelakarnya sambil tertawa dan mengusap wajahnya yang penuh lumpur.

Read 1278 times
Rate this item
(0 votes)
Published in Seni Budaya

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Live Madu TV

Live Radio Madu FM



Get connected with Us