Breaking News
Telapak Kaki "Nyembul" Di Atas Makam - Wednesday, 16 May 2018 15:12
Walikota Serahkan Kunci Di Program Bedah Rumah - Saturday, 10 February 2018 07:20
IMB Bagi Masjid Di Kota Kediri - Friday, 09 February 2018 08:01
Transaksi Non Tunai Bagi Guru Madin TPA - Friday, 09 February 2018 08:01
ProDaMas 2018 Mulai Terealisasi - Wednesday, 07 February 2018 11:11
Dua Santri Hanyut Diterjang Air Bah - Tuesday, 06 February 2018 02:06
Polisi Tangkap Pembuang Bayi - Monday, 05 February 2018 11:05
Hari Kanker Sedunia Di CFD Jalan Dhoho - Sunday, 04 February 2018 06:13
Puluhan Warga Terpaksa Menutup Operasional MJB - Saturday, 03 February 2018 10:11
Puluhan Massa "Cari" Kepala Kantor BPMPD - Friday, 02 February 2018 23:45
ProDaMas 2018 Segera Direalisasikan - Friday, 02 February 2018 12:12

Friday, 04 May 2018 16:02

Pemegang Kartu Indonesia Pintar Terancam Tak Dapat Ikut Ujian

Written by 
Rate this item
(0 votes)

Kediri ( radiomadufm.com) - - Disinyalir gara-gara tidak sanggup membayar biaya sekolah, salah seorang siswi berprestasi di Kota Kediri, Jawa Timur terancam tidak bisa mengikuti ujian semester. Padahal, dia tergolong sebagai pelajar yang kurang mampu dan memegang Kartu Indonesia Pintar (KIP). 

 

Pelajar bernasib malang ini adalah LN, warga Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Dia tercatat sebagai salah satu siswi kelas 1 SMA Negeri 4 Kota Kediri. Kini siswi kelahiran 15 Mei 2002 itu harus pasrah menerima nasibnya, karena orang tuanya kesulitan mencari uang untuk melunasi tunggakan biaya sekolah.

Yakub, ayah LN mengaku, mendapatkan pemberitahuan dari sekolah untuk segera membayar tunggakan biaya tarikan sekolah selama dua semester sebesar Rp 3.611.000,00.

 

Apabila Yakub tidak sanggup, maka praktis LN tidak bisa ikut ujian semester genap. Sebab, sekolah telah mengultimatum bagi pelajar yang tidak sanggup menulasi tunggakan biaya tarikan, maka mereka tidak akan mendapatkan nomor ujian.

 

Artinya, mereka juga tidak bisa ikut ujian semester genap yang akan dimulai, pada Senin (8/5/2018) besok.

 

"Saya juga bingung, wong memang orang tidak punya apa-apa. Tagihannya sebesar Rp 3,6 juta. Kalau tidak bisa bayar, tidak bisa ikut ujian. Kemarin saja, raportnya (semester satu) juga belum dikasihkan," keluhnya.

 

Tanggungan ini berupa, biaya untuk pembelian seragam, SPP, buku dan juga uang bansos. Rinciannya, untuk semester satu Rp 2.391.000 dan semester dua Rp 1.220.000, sehingga totalnya Rp 3.611.000.

 

Sebenarnya, LN diberikan kesempatan melunasi seluruh biaya itu pada hari ini, Jumat (4/5/18). Tetapi kemudian ditoleransi hingga ujian berlangsung, pada Senin (8/5/18) besok.

 

Yakub, ayahnya sudah berusaha mencari pinjamanan kemana-mana, tetapi belum berhasil. Dia juga sudah datang ke sekolah untuk meminta keringanan biaya, mengingat, dirinya tergolong keluarga kurang mampu, namun tetap gagal. Sehingga, Yakub kini hanya bisa pasrah.

 

LN tercatat sebagai pelajar kurang mampu. Dia memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Bahkan, gadis ABG ini juga memegang surat keterangan sebagai pelajar miskin dari kantor kelurahan setempat. Namun, 'kartu sakti' yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo ini ternyata juga belum bisa membantunya.

 

"Saya sudah berusaha ke sekolah, meminta keringanan biaya, tetapi tidak diberi. Malahan saya dimarah-marahi. Dikatanya tidak memiliki etika untuk membayar," aku Yakub bersedih.

 

Sejak divonis menderita penyakit jantung, Yakub sudah tidak bisa bekerja lagi. Pria paroh baya ini berhenti sebagai pedagang nasi goreng di Kota Surabaya.

 

"Saya sudah tidak bisa bekerja. Dulu sebagai penjual nasi goreng, tetapi sudah berhenti karena sakit jantung. Saya tidak tahan dengan asapnya. Terasa sesak di dada," ungkap pria ompong ini.

 

Kehidupan ekonomi Yakub hanya mengandalkan satu orang anak laki-lakinya yaitu, LK. Dia bekerja sebagai tenaga honorer di salah satu dinas di Kota Kediri. Sementara istrinya memilih tinggal bersama anaknya di Surabaya untuk membantu momong cucunya.

 

Dari catatan keluarga, LN sebenarnya pelajar yang berpretasi. Dia tercatat sebagai seorang atlet lari perempuan dan juga drum band. Dari beberapa ajang perlombaan, LN kerap menyabet juara.

"Sebenarnya saya malu. Tetapi bagaimana lagi, karena sudah tidak ada apa-apa. Bahkan, anak saya yang kelas 5 SD juga harus bayar untuk biaya pentas seni saja, saya tidak bisa membayarnya," keluh Yakub bersedih.

Rumah warisan yang ditinggali Yakub dan anak-anaknya ini sebenarnya pernah  mendapatkan sentuhan rehab, pada 2014 lalu. Renovasi bagian atap rumah, kala itu memakai dana dari program PNPM Mandiri. Namun, baru berjalan 3-4 tahun terakhir ini, banyak kayunya yang sudah lapuk. 

 

"Kami sudah mengajukan bantuan dana renovasi melalui pemerintah kelurahan, tetapi sampai sekarang ini belum terealisasi. Kami khawatir apabila ada tamu datang, tiba-tiba atapnya runtuh dan mengenai. Kami sendiri sebenarnya menempati ini juga was-was, terlebih saat hujan turun," ucap LK, anak laki-laki Yakub. (em/ga) 

Read 2403 times

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Live Madu TV

Live Radio Madu FM



Get connected with Us